MELAYANI TUHAN BERARTI KAU PERLU MELIHAT INSAN SEBAGAI INSAN Posted by Tamtam Setiawan on 2009-11-21 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Setelah sekitar dua mingguan dibahas bersama di milis kita ini, maka tibalah
saatnya menutup dan inilah rangkuman sharing tulisan dari teman-teman terhadap
Renungan 100 terdahulu:
"Melayani Tuhan berarti kau perlu melihat insan sebagai insan." (Darmayasa)
---o0o---
JM Sudarma:
"Setiap pembunuhan dan bentuk kekerasan (penganiayaan) lain, tak peduli apa
penyebabnya yang dilakukan oleh atau ditujukan kepada orang lain adalah suatu
tindakan kejahatan kemanusiaan"
Gandhi dalam Harijan, 20-7-1935, 180-181:
Di dalam semua ciptaan-Nya terdapat "Atman" yang merupakan asas hidup mahluk
yang tidak lain adalah percikan dari Brahman.
Brahman dan Atman adalah Tunggal (Brahmà tma aikyam), sebenarnya Brahman adalah Atman ini (So va' ayam Atma Brahma) demikian dinyatakan dalam kitab
Bhradaranyaka Upanisad 4.4.5. Demikian pula kalimat Tattwamasi (Chandogya
Upanisad 5.8.7) yang artinya : Engkau juga adalah dia. So'aham Brahma (Aku juga
adalah Brahma). Kesadaran akan tunggalnya Atma (roh) setiap mahluk menumbuhkan kesadaran bahwa manusia pada hakekatnya sama dengan manusia yang lain, sama dengan makhluk yang lain, yakni sama-sama merupakan ciptaan Brahman dan kembali kepada Brahman. Ajaran ini menumbuhkan cinta kasih, belas kasihan serta solidaritas sosial-love ever hurt never, serve to all man kind is serve to the God.
(Sudarma)
---o0o---
Mahardika:
Salam kasih,
Bahasa spiritual adalah bahasa dengan banyak makna yang berujung pada "Kasih"
yang tumbuh secara sadar dari dalam diri. Walaupun yang sedang dilihat atau
dihadapi adalah hal yang negatif secara duniawi, tetap memiliki makna spiritual
didalamnya. Dengan demikian apapun yang dihadapi, kalau sudah mampu menghayati dan menerapkan rasa dalam bentuk kasih yang utuh, bahwa "semuanya adalah Tuhan", pada saat itulah semua laku spiritual tercermin dalam laku keseharian.
Pertanyaannya..., Bagaimana caranya menapaki jalan indah tersebut, setapak demi
setapak dalam hidup nyata? Dunia nyata yang masih membelit kita dengan
gemerincing harta, silau pada status sosial, melekatnya topeng jaim (jaga image)
- gengsi dan teman-temannya...
Benar-benar hidup yang sulit bila dilihat dengan kacamata spiritual. Spiritual
bukan hanya karena mampu bermeditasi 2 jam, tapi spiritual dalam hidup
keseharian. Yang tanpa harus menjadi seorang sanyasin. Hidup spiritual sebagai
seorang Ibu, sebagai Petani, Pekerja, Pengusaha.. dan lain sebagainya.
Sriguru
MG Mahardhika
---o0o---
Triyana:
Salam kasih
Sifat alami insan yang masih terikat adalah tidak bisa terbebas dari
benar dan salah. Ciri insan yang sudah memahami insan lain yang memiliki sifat
alami itu adalah tidak menjadikan kekurangan insan lain sebagai penghambat dalam
melayani Tuhan. Sebab di dalam melayani Tuhan benar dan salah menjadi tidak
berarti bila segala sesuatu yang dilakukan itu diwarnai kasih murni bhakti.
Sriguru,
Triyana
---o0o---
Deloja:
Salam Kasih,
Dalam kesaharian bila melayani, seseorang diharapkan tanpa melihat serta
membedakan asal-usul, keluarga, agama dan lain-lain. Namun Kebanyakan diantara
kita termasuk saya yang ingin melayani/menolong orang masih melihat latar
belakangnya lebih-lebih mempunyai kepentingan pribadi dibaliknya.
Salam Kasih.
Deloja.
---o0o---
Noni:
Salam kasih,
Saya meliaht point dari renungan Guru ini ada pada kata insan.
Melayani Tuhan dengan melihat insan sebagai insan.
Tuhan adalah abstarak, tak terlukiskan dan bersifat kekal
Sedangkan Insan adalah nyata, dia riil namun bersifat maya (tidak kekal)
Kita hidup sebagai insan yang terlihat riil namun sesungguhnya bersifat maya.
Sesuatu yang bersifat maya, bagamana mau langsung melayani mahluk yang kekal?
Kita harus menemukan katalisnya dulu untuk mereduksi sifat maya kita agar menuju
yang kekal.
Untuk itulah kita harus melihat insan sebagai insan, menyadari ketidak kekalan
kita.
Konteknya dalam keseharian kita harus menyadari apa yang kita lakukan tidaklah
kekal.
Hubungan yang terbangun dalam kontek insan tidaklah kekal.
Hubungan pertemanan, hubungan pekerjaan, bahkan hubungan orang tua dan anak juga tidaklah kekal secara fisik.
Yang kekal adalah hubungan non fisiknya. Hubungan non fisik itu bersifat
abstrak.
Dia tidak terlihat nyata namun kekal.
Sriguru
Denoni
---o0o---
Deloja:
Salam Kasih.
"Sesuatu yang maya, bagaimana hendak langsung melayani mahkluk yang bersifat
kekal". Apakah rangkaian anggota bagaian tubuh kita seperti kepala, kaki,
tangan dan lain-lain bila tidak ada insan... masih disebut Makhluk ...?.
Karena kita menyadari sesuatu yang bersifat fisik itu tidak kekal... maka jangan
dijadikan ukuran. Karenanya, kita dalam menjalankan cinta kasih bila sudah tidak
pilih kasih barulah bisa kita dapat sungguh-sungguh malayani Tuhan...
Salam,
Deloja
---o0o---
Rai:
Salam kasih;
Insan diartikan dalam kasat mata mungkin berupa fisik, sedangkan apa yang
bersemayam dalam insan itulah sebenarnya yang sejati, demikian pula halnya
dengan pelayanan jika masih pada sebatas fisik, maka pikiranlah yang menjadi
penentu, sedangkan kita tahu bahwa pikiran akan selalu memilih.
Kalau kita sudah bisa melihat insan sebagai bukan fisik ( insan yang murni yang
bersemayam di dalamnya) maka disanalah kemurniana jiwa yang terlihat, dikaitkan
dengan pelayanan kalau kita memandang insan sebagai insan yang murni, maka
pelayanan itu akan murni pelayanan dimana sang jiwa sebagai komandonya dan sang jiwa tidak akan pernah memilih, siapa, dimana, kapanpun akan dilakukan pelayanan sebagaimana pelayanan itu adanya.
Kita tidak asing lagi mendengar istilah "melayani dengan hati". Orang yang
masuk pada tahapan ini dimana pancaran jiwa sangatlah kuat, apakah mungkin
Melayani TUHAN yang dimaksud adalah dengan Melayani dengan hati, melihat insan
sebagaimana insan adanya?
Sri guru
Rai
---o0o---
Adi:
Salam kasih,
Melihat insan sebagai insan, bisa kita artikan melihat manusia sebagai Manusia
seutuhnya. Atau lebih jauh lagi, melihat semua mahluk sebagi sesama mahluk. Kita
semua adalah sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Kita sering diajarkan untuk melihat
semua manusia secara sama dan sederajat. Namun pada kenyataannya hal ini
sangatlah sulit. Kita sangat suka membeda-bedakan manusia. Khususnya dengan
melihat penampilan fisik dari manusianya. Jika ada orang berjas, berdasi naik
mobil mewah bertamu ke rumah kita, bisa kah kita bersikap yang sama jika yang
bertamu adalah orang miskin, berbaju kumal dan bau?
Jika sudah mencapai kesadaran seperti itu, kita bisa kembangkan hal yang sama
pada semua hewan. Bisakah kita bersikap yang sama jika didatangi oleh kucing
persia yang cantik terawat, dengan didatangi kucing liar dekil dan kumal?
Konon, masyarakat di India mempunyai tingkat kecintaan pada hewan yang jauh di
atas kita. Penduduk menaruh biji-bijian di atas pagar rumahnya untuk memeberi
makan burung-burung liar yang singgah turun. Saat memasak, jika ada sapi lewat
di jalan, mereka akan memberikan makanan pertamanya. Bahkan, para kakek nenek, berjalan-jalan di taman kota, sambil bungkuk-bungkuk mencari rumah semut, untuk diberikan sejumput gula. Sedangkan kita, begitu lihat semut, langsung ambil pembasmi serangga dan menyemprotkannya.
Ternyata, melayani Tuhan tidak hanya dengan sembahyang, membuat upacara dan
persembahan yang besar-besar dan mewah, tetapi dapat juga dilakukan dengan
melayani sesama manusia dan sesama mahluk Tuhan.
Semoga kita bisa...
Salam damai,
adi
---o0o---
|