Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
Cd/vcd/dvd
Donasi
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
LIPUTAN HUT MEDANG TAHUN 2010 HARI KE-6, KE LEMPUYANG
Posted by Adi Candra on 2010-02-25
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam kasih

Kamis 25 Feb 2010, Meditasi ke Lempuyang

Lempuyang adalah sebuah gunung di daerah Karangasem Bali. Di sana banyak terdapat pura, bahkan sampai di puncaknya. Meditasi ke Pura Lempuyang ini diadakan mengingat bahwa Pura ini sangat spesial, sangat kuat vibrasinya, bahkan konon dari foto Satelit NASA melihat gunung lempuyang ini bercahaya dari hasil foto satelit.

Perjalanan Denpasar-Lempuyang membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Sedangkan mendaki ke Puncak Lempuyang membutuhkan waktu sekutar 3 jam naik-turun. Sehingga kita meminta rekan2 berkumpul di Center Dps jam 6 pagi, supaya tidak terlalu panas saat mendaki nanti. Panitia menyiapkan 1 buah bus untuk transportasi rekan2 dari luar negeri serta rekan2 yg tidak bawa kendaraan. Selainnya rekan2 yang punya mobil, semua digunakan.

Rombongan Guruji harus melakukan sesuatu hal dulu, sehingga jam 8 pagi baru tiba di Center. Mengisi waktu sambil menunggu kedatangan Guruji, Guru Darmayasa memberikan wejangan tentang pentingnya kitab Bhagawad Gita. Guru menjelaskan bahwa Tuhan menurunkan langsung kitab ini, tidak hanya diperuntukkan bagi umat Hindu saja, tapi dia adalah diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Karena isinya penuh dengan nilai2 kemanusiaan dan ajaran luhur. Banyak tokoh besar dunia yang menganggap kitab ini sebagai bacaan favoritnya. Jika kita bisa menyadari keuniversalannya, silahkan baca. Tapi jika tidak, sebaiknya jangan baca kitab ini.

Cara terbaik membaca kitab ini adalah dengan membaca 1 sloka setiap harinya. Totalnya ada 700 sloka. Caranya dengan diawali membaca sloka II.7, kemudian baca sloka yang diinginkan, lalu akhiri dengan sloka II.7 lagi. Sloka II.7 ini sangat penting karena di sinilah point penting kitab ini yaitu adanya penyerahan diri yang mutlak sebagai murid kepada Tuhan.

Sekitar pukul 8:30 wita, rombongan berangkat menuju Lempuyang. Cukup banyak rombongan kita. Memasuki daerah Karangasem, mulai tampak pemandangan yang indah dan menghijau. Rekan2 kita tampak menikmati alam yang indah ini.

Sekitar pukul 11 wita, kita bersembahyang dan meditasi di Pura yang pertama. Matahari bersinar dengan teriknya, sehingga rekan2 sampai bercucuran keringat. Selesai sembahyang di sini, rombongan segera menuju ke Pura Telaga Mas. jaraknya mungkin sekitar 1 km, berupa jalanan aspal yang menanjak. Ada yang memilih berjalan kaki, ada juga yang naik ojek dengan bayar Rp 5.000. Kembali kita bersembahyang dan meditasi di pura Telaga Mas, sampai jam 13 wita.

Sebelumnya sempat diumumkan kita tidak akan naik ke puncak, mengingat waktu yang sudah kesiangan, supaya tidak malam pulangnya, mengingat keesokannya adalah Puncak Peringatan HUT kita. Namun, mungkin karena kasihan melihat rekan2 asing dan rekan2 luar Bali yang banyak baru pertama kali ke sini, akhirnya Guru mengumumkan, bagi yang ingin ke puncak, dipersilahkan. Setelah makan siang alakadarnya, beberapa rekan naik ke puncak. Sebagian lagi tetap menunggu di bawah. Waktu mulai pendakian rekan2 tidak bersamaan,rutenya pun berbeda-beda, karena dalam perjalanan ada beberapa pura yang bisa dilewati dengan jalur yang berbeda2.

Sekitar pukul 16 wita, hujan turun dengan sangat lebatnya. Satu per satu rekan2 mulai ada yang sudah tiba di bawah. Mereka semua basah kuyup. Tapi masih ada juga rekan2 yang masih belum turun gunung. Hari makin gelap, sampai pukul 18 wita, hujan juga belum reda, rekan2 masih ada yg belum turun gunung, sedangkan yang sudah turun dan basah kuyup jadi menggigil kedinginan. Akhirnya panitia memberangkatkan bus ke Denpasar karena melihat rekan2 asing yang menggigil kedinginan. Dengan harapan, jika ada rekan yang masih tertinggal, bisa ikut di mobil kecil2 yang masih setia nungguin di sana. Ternyata ada juga rekan kita yang
ketinggalan bus...(sori pak). Konon rekan terakhir yang turun gunung jam 19 wita dan sudah gelap. Rombongan segera kembali ke Denpasar dan tiba di Center Dps sekita pukul 21 wita.

Rekan2 panitia, khususnya sie konsumsi dan acara, kembali sibuk berkoordinasi untuk mempersiapkan acara Puncak keesokannya...

...bersambung....

Salam damai
adi

Salam kasih..

Saya tambahin sedikit dengan apa yang saya alami di sana, ya.

Pagi itu, saya mesti ke airport karena jam.09 WIT istri saya baru mendarat di bandara..

Dalam hati saya, saya sudah menyerah, tak mungkin bisa ikut rombongan ke Lempuyang.

Pertama karena harus jemput istri, ke dua, klo pun menyusul, saya benar2 gak tahu jalan nya dan yang terakhir yang paling parah adalah saya pasti sudah kesiangan...

Beberapa kali terima tlp dari Prabhuji menanyakan posisi saya.

Saat itu juga kebetulan saya dapat tlp dari pak.MGM yg katanya mungkin tidak bisa ikut ke Lempuyang karena harus besuk family yg masuk rumah sakit..tapi karena tahu saya juga terlambat brangkat ke Lempuyang, akhirnya pak.MGM pun jadi brangkat..

Setelah kontak2 dgn pak.MGM dan janjian akan di jemput di Center, kami pun akhirnya bisa meluncur menuju Lempuyang...Jam saat itu sudah hampir jam.11.00

Dalam perjalanan beberapa kali tlp dari Prabhuji menanyakan lokasi kami..

Singkat cerita akhirinya kami mendarat dengan selamat di Lempuyang. Tapi saya bingung kok sepi sementara saya hanya melihat rekan Ramos dan beberapa orang lain nya sedang duduk2 di sebuah warung.

Lho yang lain mana..?

Sementara saya lagi bingung, pak.MGM nampaknya juga ingin mengakhiri perjalanan nya di warung tsb..wah saya mesti kemana nih... Sesaat baru saya tahu ternyata kami masih harus mendaki lagi dengan ojek...

Ooohhh begitu toh..!.. Jadi perjalanan belum selesai...Setelah soal harga dengan ojek beres, saya dan istri meluncur ke atas..

Tidak berapa lama, kami tiba di suatu tempat [Pura yang pertama Pura Dasar atau Pura Telaga Waja ya]. Pak.Ngurah yg melihat saya langsung membawa saya ke Prabhuji dan Guruji..Sempat saya bertukar sapa juga dengan beberapa temans - Pak.Albert diantaranya - yang kaget karena akhirnya saya sampai juga di Lempuyang.

Saat menghadap Prabhuji beliau sempat berkata : "..Yang menghadap ke Guruji hanya yang mau naik keatas saja..."

Duh sejenak saya sempat bingung - apa lagi nih. Naik..? naik ke atas mana..? - kemudian Prabhuji berkata lagi : Hmm. Ki.Dendi mau naik juga ya..? . Saya yg lagi bingung, menjawab "Iya.." aja biar gampang dan cepat... Setelah sungkem ke Guruji dan dapat bekal bunga, kebingungan saya bertambah setelah Ibu.Agung berkata : " Pak.Dendi sudah berdoa ya.."..

Tadi lagi bingung di hadapan Prabhuji aja saya berani bilang Iya, mosok sekarang sama Ibu.Agung saya gak bisa bilang iya lagi..hehe..Saya juga sempat melirik kebelakang, wah istri saya dapat Apel dari Guruji dan Prabhuji..

" Apelnya di taruh dulu di alas kain yg ada di samping Guruji oleh Prabhuji, baru beberapa saat kemudian diambil oleh Guruji dan di berikan ke aku " Cerita istri saya beberapa saat kemudian dengan napas tersengal-sengal ketika kami sedang mendaki jalan tanah yg terjal menuju puncak Lempuyang Luhur...

Dari Pura yang pertama kami, saya dan istri, mulai menapaki jalan tangga batu yg menanjak untuk menuju Pura yang ke dua..disini saya sempat japa mala dua putaran...sementara di pura2 yang lain saya hanya satu putaran..mungkin japa mala dua putaran di Pura Madya untuk membayar japa mala satu putaran di Pura Dasar..

Dari situ di lanjut lagi ke pura yg ke tiga.. jalan-nya dari tanah dan cukup curam memaksa kaki saya terseok-seok dengan napas ngap-ngap-an...

Ada perasaan ingin kembali, turun kebawah, tapi istri saya bilang : Sayang jauh-jauh dari JKT klo gak bisa sampai puncak Luhur.."

Diantara lelah dan letih dan lesu dan capek dan lain-lain, saya sempat berpikir, bahwa jika berat badan saya masih 84 kilo dan tidak pernah melakukan sedikitpun olah raga, saya yakin saya tidak akan mampu mendaki Gunung Lempuyang ini..Belum lagi persiapan diri untuk menerima sakit di bagian lutut kiri saya...penyakit di lutut ini akan kambuh jika saya melakukan pendakian seperti ini. Saya masih ingat kejadian dulu sekitar thn 1996 saat naik Gn. Gede di Jawa Barat. Saya butuh waktu hampir satu hari penuh hanya untuk turun gunung karena lutut kiri saya kumat sakit nya. Padahal normal nya hanya perlu beberapa jam untuk turun dari Gn.Gede ini...

Saya bersyukur ternyata untuk pendakian ini dengan tidak sengaja saya telah melakukan sedikit persiapan di JKT . Saya sempat diet dan berat badan saya sempat turun jadi sekitar 79 kg. Kemudian sempat juga setiap sabtu dan Minggu olah raga naik sepeda...Walau begitu ketika sudah mendekati Lempuyang Luruh, paha kanan saya sempat sedikit kram...Pak.Bagus Suwecana malah dua-dua pahanya kram ringan..Hebat-nya pak.Bagus, dia tetap bertahan ingin mendaki hingga puncak...Your are great, sir...!..hehe

Segala jerih payah terobati dengan pemandangan yang indah dari ketinggian puncak Gn. Lempuyang...

Saat itu hujan sudah turun dengan lebatnya...badan saya sudah basah kuyup..

Mendekati Lempuyang Luhur, baju saya sudah lepek dan kuyup oleh hujan, sementara di sekitar jalan setapak itu semakin banyak monyet-monyet yang berkeliaran. Saya melihat peserta dari luar negri sedang santai berteduh. Saya tidak merasa di lewati oleh mereka, bagaimana mungkin mereka bisa sampai terlebih dahulu...? Pertanyaan itu terjawab setelah saya turun dalam perjalanan pulang. Ternyata banyak rekans yang tidak mampir di setiap pura. Jadi mereka tidak melalui Pura Madya..No wonder mereka bisa santai dan sampai lebih dulu..

Jalan yg mereka lalui pun lebih nyaman terdiri dari undakan tangga batu, sementara jalan yg kami lalui terjal dan dari tanah. Malah beberapa kali harus melewati semak duri..[ beehhh yg ini kayaknya lebai nih..]

Sepanjang perjalanan turun kami terus di guyur oleh hujan dan sesampai nya di bawah, sempat papas an dengan beberapa temans. Yang bikin kaget, ternyata pak.MGM tidak sedang santai di warung kopi, karena saya sempat papasan dengan dia waktu kami sedang dalam perjalanan turun dan dia perjalanan naik...Dia bersama-sama dengan rombongan keluarga besar Madenoni dan Istri serta Made Dewi, sempat foto2 malah...kayaknya dia naik Lempuyang santai-santai aja..Mungkin karena rutin main bulutangkis setiap minggu nya ya..

Sesampainya di bawah kami di sambut oleh tepuk tangan dari temans yg tidak ikut naik keatas..

Wuuaahhh lega rasanya...

Sampai di warung tempat saya pertama mendarat, saya baru sadar bahwa dari pagi sampai senja itu, saat itu sekitar pukul. 18.00, perut kami belum terisi makanan, istri sudah sedikit terganjal dengan apel dari Guruji...Tanpa buang waktu, tiga buah Pop mie dengan cepat berpindah ke perut saya di tambah dua gelas kopi susu...

Terima kasih kepada ayah nya Erni Huang, yg diam-diam sudah membayar pop mie dan kopi susu yang saya pesan...!

Saat kembali ke center, kami semua di dalam mobil yg di kendarai oleh pak.MGM diam membisu sambil menggigil kedingan. Gimana gak menggigil kedinginan, baju dan celana kami semua basah kuyup. Saya juga kaget dan terheran-heran ternyata lutut kiri saya tidak mengalami sakit apa-apa..

Lempuyang Luhur, ijinkan suatu hari nanti saya bisa kembali ke sana...!

Dendi.











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar