Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
ENGETAHUAN SUCI MEMERLUKAN HATI YANG SUCI BERSIH DAN BUKAN STATUS, KEDUDUKAN, KASTA MAUPUN KETERPELAJARAN DUNIAWI
Posted by Tamtam Setiawan on 2010-04-06
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Setelah dibahas sekitar dua mingguan di milis kita, kini tibalah saatnya untuk
menutup Renungan 104:

"Pengetahuan suci memerlukan hati yang suci bersih dan bukan status,
kedudukan, kasta maupun keterpelajaran duniawi." (Darmayasa)

---o0o---

Bapak Sukada:

Salam Kasih,

Ijinkan saya untuk ikut membahas renungan indah ini.
Status, kasta, keterpelajaran duniawi hanyalah pernak-pernik kehidupan duniawi,
yang kalau kita salah malah akan bisa menjerumuskan kita ke jurang kehancuran.
Sedangkan ilmu pengetahuan suci akan membawa kita pada kenyataan hidup yang
berbahagia di dunia, maupun dalam kehidupan setelahnya.

Guru sering mengingatkan, "agar dapat melihat bayangan bulan di dalam telaga
dibutuhkan air telaga yang bersih dan jernih, bebas dari sampah pengetahuan
duniawi, kekayaan, keterikatan lainnya". Para pe-Meditasi Angka telah dibimbing
untuk sesering mungkin, dan bahkan 24 jam sehari, untuk melemparkan batu, berupa angka pilihan kedalam telaga hati kita, agar segala sampah bisa terpinggirkan dan telaga hati kita menjadi bersih dan siap untuk menerima bayangan bulan pengetahuan suci dari Sang Guru.

Permasalahannya sekarang maukah kita berusaha 24 jam sehari bersama angka
pilihan?
Kebersihan dan kesucian hati seseorang hanya dapat diketahui oleh orang yang
bersangkutan. Seperti pepatah mengatakan "dalam laut dapat diukur dalam hati
siapa tau"

Damai
I W Sukada
---o0o---

Bapak Suryantha:
Salam Kasih,

Yang di nikmati pada saat ini baik ataupun buruk tidak lepas dari kehidupan
lalu. Status yang baik, Kedudukan yang basah, Kasta yang tinggi, Keterpelajaran
Duniawi yang teratas, biasanya diperoleh oleh seseorang yang perilakunya sangat
baik pada kehidupan yang lalu. Itu adalah karunia yang tersisa untuk membantu
mengingat kembali kepada dirinya agar selalu menjaga sikap dan perilakunya,
namun jarang sekali yang memiliki kesadaran seperti itu. Kebanyakan dari mereka
larut seperti gula dalam air, mereka sama sekali lupa, Seandainya mereka
menyadari bahwa semua itu adalah hasil dari sikap dan perilaku yang baik pada
kehidupan yang lalu tentu ; status, kedudukan, kasta, keterpelajaran duniawi
akan sangat membantu, mereka akan ditiru dan menjadi tauladan bagi yang lain di
dalam masyarakat, itu pasti! Dengan demikian *kesadaran badan* itu bisa
mengontrol *hawa nafsu**, **amarah *dan* **loba* hasil dari pengotrolan itu akan mengangkat dirinya sedikit demi sedikit pada *kesadaran rohani*, perlahan namun pasti *hatinya akan tersucikan* bebas dari hawa nafsu, amarah, loba dan kemudian menjadi layak menerima *PENGETAHUAN SUCI*.

Salam,
Suryantha
---o0o---

Bapak Mahardika:

Salam Kasih,

Ibarat mengisi gelas, supaya bisa diisi, yang bersangkutan perlu memiliki sikap
tunduk hati untuk mengosongkan isi gelasnya, sehingga pengetahuan (air) bisa
mengisinya. Namun tetap perlu waspada, apakah yang mengisinya air bersih atau
yang butek? Maka perlu paham sumber airnya. Bukan sembarang air.
Lebih penting lagi, harus tahu untuk apa dan bagaimana memanfaatkan air itu
untuk kehidupan. Tanpa tahu ini, kita akan mabuk air dan tenggelam sendiri.

Sriguru
MG Mahardhika
---o0o---

Bapak Suryantha:

salam kasih,

Dikatakan sebutir debu itu berjiwa, untuk menjadi *sebutir debu* saja
sangat-sangat sulit di *Vrindavan* apalagi menjadi manusia!. *Guruji*, Beliau
memberi pergaulan kepada kita para pe-Meditasi Angka adalah sungguh sangat
beruntung dan luar biasa, ini adalah hasil pergaulan itu, saya sujud kepada
Bapak Mahardika, Sungguh luar biasa nasehat ini, saya akan ingat selalu. *Mohon
karunia doanya* agar saya menjadi seberuntung Bapak.

Damai...,
Suryantha
---o0o---

Bapak Adi Candra

Salam kasih,

Dalam kitab suci disebutkan bahwa Pengetahuan Suci takut pada "orang bodoh".
Tentu saja, karena orang bodoh akan susah memahami makna yang terdapat dalam
pengetahuan suci. Pengetahuan biasa saja (seperti ilmu di sekolahan) akan susah
dipahami oleh orang bodoh, apalagi pengetahuan suci. Yang lebih parah lagi,
orang bodah akan bisa menyalah tafsirkan isi pengetahuan suci, disesuaikannya
dengan kemampuan isi kepalanya saja.

Namun, dalam sebuah wejangan, Guruji menyampaikan: Janganlah menjadi orang bodoh dan janganlah menjadi orang pintar (semoga nggak jadi bingung). Selain
permasalahan orang bodoh seperti di atas, ternyata menjadi orang Pintar pun,
tidak baik. Bahkan dalam wejangan Guru beberapa hari yg lalu, disampaikan pesan
dari Guruji yang mempertanyakan: "Coba diingat-ingat, adakah orang pintar yang
bertemu Tuhan?". Ini menjadi hal penting yang perlu kita renungkan bersama.

Memang benar; status, kasta, kedudukan, keterpelajaran duniawi, sering tidak
membantu kita dalam mempelajari pengetahuan suci, malah sering menjadi
penghambat. Contohnya, hal-hal tersebut bisa menghambat kita dalam mencari
pengetahuan suci dari Guru. Misal: mana mungkin kita yang statusnya kaya raya,
mau menaruh kepala di kaki Guru. Kita yang berkasta tinggi, tak akan mau menaruh
kepala di kaki guru yang "kastanya rendah". Kita yang terpelajar (S3 atau S4)
tak akan sudi menaruh kepala di kaki guru yang hanya tamatan S1. (Maaf ini semua
hanya contoh....jangan ada yang tersinggung. ...).

Ada rekan yang menanyakan, bagaimana "hati yang suci" itu? Kita lihat/teladani
saja Guru kita. Bagaimana Guru membagi kasih kepada semua orang, tanpa melihat
ras, suku, agama, kaya miskin, dan lain-lain. Itulah misi Guru untuk menyebarkan
Cinta Kasih Spiritual (Divine Love). Marilah kita berusaha mengikuti/meneladani
apa yang dilakukan Guru.

Maaf kalau ada yang salah. Copy paste sana sini...:(

Salam damai,
adi
---o0o---

Bapak Kompiang:

Salam Kasih,

Terima kasih Pak Adi, telah memaparkan dengan baik renungan hari ini dan di
dalamnya ada sharing pelajaran yang sangat berharga dari Guruji.

"Jangan menjadi orang bodoh dan jangan juga menjadi orang pintar" "Coba
diingat-ingat : adakah orang pintar ketemu Tuhan ?"

Mohon pencerahan "bagaimana kita menyelaraskan petuah Guruji dengan kehidupan
nyata?

Sekarang ini, sebagian orang tua mengejar agar anak-anaknya semua pintar, karena hanya dengan menadi pintarlah, diharapkan dia bisa mendapatkan pengetahuan untuk bekal menjalani kehidupan di dunia ini. Ini memang hanya berhubungan dengan dunia materi.

Untuk kehidupan spiritual, kita juga mengharapkan anak-anak kita atau kita
sendiri harus "PINTAR" dalam memilih (VIVEKA) mana yang baik & tidak baik atas
tuntunan Kebijaksanaan (Buddhi)?

Swami Vivekananda pernah berkata "kita (orang awam pada umumnya) tidak mungkin ber"agama" dalam keadaan perut kosong. Oleh karena itu "penuhilah dulu kebutuhan duniawimu, baru kau bisa beranjak menempuh kehidupan spiritual".

Dalam Bhagawadgita" Bhakti, Karmin & Jnanin, tingkatannya sama. Kadang bahkan
saya pernah baca, puncaknya adalah Jnana (Pengetahuan Suci). Bukankah disini
kita memerlukan suatu ke"pintaran" untuk bisa mempelajari Pengetahuan Suci?
Maaf "hanya ingin diberikan pencerahan"

Pemahaman saya "PINTAR" disini yang dimaksud dalam petuah Guruji adalah PINTAR hanya menggunakan PIKIRAN/LOGIKA. Karena pandangan secara umum kata pintar adalah hanya berhubungan dengan Pikiran. bukan Pintar dalam Kebijaksanaan ..

Salam,
Kompiyang
---o0o---

Bapak Noni:

Salam kasih,

Point renungan ini menurut saya adalah hati yang suci dan bersih

Cuma bagaimana agar hati itu suci, bagaimana mebersihkan hati?

Ternyata Meditasi Angka sudah menyiapkan semuanya itu dengan lengkap, jika kita
ingin mencuci baju kotor hingga dia kering harus ada 4 komponen utama :

1. Mesin cuci/Orang yang mencuci
2. Air
3. Sabun.
4. Matahari

Di dalam Meditasi Angka juga mempunya 4 komponen utama tersebut

1. Mesin cucinya adalah Angka, Tanpa Angka pilihan yang mengucek-ngucek saya,
rasanya kotoran ini tak akan pernah hilang.

2. Dharma/Ajaran suci, ajaran suci ibarat air bersih yang membilas. Berulang
kali setiap bertemu Guru selalu Beliau menyempatkan diri memberikan nasihat dan
petuah suci untuk di lakoni dalam hidup ini.

3. Sanggha/Pergaulan suci dan makanan dalam Meditasi Angka, hal ini selalu di
tekankan oleh Guru untuk selalu menjaga hubungan antar pe-Meditasi Angka bergaul
dalam lingkup pergaulan suci. Dan juga di tekankan kesucian dan kebersihan
makanan yang kita makan, mulai dari proses pembuatan hingga penyajian.

4. Guru Suci (Prabhu, Guruji & Dhuna Guru) ibarat matahari yang menyinari kita
dengan hangatnya kasih sayang Beliau. Dalam keadaan apapun sinarnya selalu
merata, namun yang membuat kita tidak terkena sinar, hanya karena kita
menghindari cahaya kasih tersebut. Bukan karena cahayanya berbelok, tapi kita
lari dari cahaya itu, namun sering orang bilang, kita bisa berlari namun tak
akan pernah bisa sembunyi dari kasih Guru.

Sriguru
denoni
---o0o---

Bapak Widyasthana:

Salam kasih,

Kalau merasa pintar kita tidak akan mau belajar, kalau merasa bodoh kita tidak
akan mau berbagi.

Sriguru
(paw)
---o0o---

Bapak Adi Candra:

Salam kasih,

Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Kompyang.

Pak Albert menanyakan di YM, bagaimana menjadi orang yang tidak bodoh dan tidak
pintar. Hmmm pertanyaan yang susah saya jawab.:(

Dulu, pernah seorang rekan menyampaikan banyak pengetahuan tentang kebaikan.
Lalu ada yang bertanya, "mengapa kita begitu bodoh, tidak mengetahui
pengetahuan-pengetahuan suci seperti ini?". Dijelaskan bahwa menjadi orang bodoh
atau tidak, itu adalah pilihan masing-masih individu. Untuk menghilangkan
kebodohan dari pengetahuan suci, belajarlah pada sumber pengetahuan suci, yaitu
Tuhan atau Guru Suci (sebagai perpanjangan tangan Tuhan). Memang kita bisa juga
mendapatkan pengetahuan dengan belajar dari buku-buku atau bahkan dari internet.
Tapi perlu diwaspadai, bahwa banyak buku atau artikel di internet yang isinya
bukan pengetahuan suci, tetapi hanya pemahaman/isi kepala si penulisnya.

Menjadi orang "pintar" juga ternyata tidak bagus. Seperti yang sangat sering
disampaikan oleh Guru, "collaps your mind, open your heart". Dalam hal belajar
spiritual/pengetahuan suci, yang dibutuhkan adalah ketundukan hati. Kepintaran
(misalnya hafal ayat-ayat suci, dan lain-lain) sering tidak membuat orang itu
menjadi makin tunduk hati, tetapi malah jadi suka mendebat/mempersalahkan
apa-apa yang disampaikan Gurunya.

Bagaimana cara menjadi orang yang tunduk hati?? Kalo tidak salah...adalah dengan
melakukan pelayanan. Lakukanlah apapun pelayanan yang bisa kita lakukan. Dengan menjadi "pelayan" otomatis ego/keakuan kita akan turun. Tidak ada pelayan yang ego/angkuh. Hanya para boss yang biasanya ego/aku karena kerjanya hanya merintah-merintah/minta dilayani...hehe.

Bagaimana suapaya hati menjadi bersih dan suci?? Rasanya Guru sering
menyampaikan: Lakukanlah Meditasi Angka dengan teratur. Perlahan-lahan hati kita
akan dibersihkan, dikikis kotoran-kotorannya. Perubahan ini terjadi sangat
perlahan, bahkan sering tidak bisa kita sadari.

Menarik sekali penjelasan dari Noni dan Pak Aris. Patut direnungkan.

Salam damai,
adi
---o0o---

Bapak Sutisna:

Salam Kasih,

Renungan 104 ini kiranya dapat diurai menjadi 2 bagian antara lain :
- Yang satu adalah pengetahuan Spiritual,
- Yang berikutnya adalah pengetahuan Duniawi.
Pengetahuan Spiritual = pengertian tentang prinsip batiniah yang menjadi dasar
dan tujuan setiap benda yang ada di dunia ini atau = kebijaksanaan.
Dalam Bhagavad Gita tertulis...Tuhan tlah menandaskan bahwa baik untuk
kesejahteraan duniawi maupun untuk mengembangkan potensi spiritual yang ada pada manusia, diperlukan badan kuat dan suci. Utk ini penting sekali makan makanan yang baik saja (satvika) dan yang telah disucikan dengan cara mempersembahkannya terlebih dahulu kepada Tuhan sebelum dimakan.

Disini pikiran dan proses pikiran merupakan wujud MANAS ( MIND ). Jika pikiran
diarahkan kepada duniawi dan hal-hal yang berhubungan dengan itu, maka proses
pikiran akan terarah kepada kekayaan dan harta benda, karena inilah yang
mendasari kehidupan dalam dunia yang kasat mata. Kata kekayaan biasanya
menunjukkan milik dan kesenangan duniawi seperti Emas, rumah, tanah ,
kemashyuran, jabatan, gelar/titel, kasta, kedudukan dan anak.

Akan tetapi menurut Bhagawad Gita (BG) disebutkan bahwa baik harta benda maupun jabatan bukanlah kekayaan yang sejati. Yang dianggap kekayaan sejati adalah SIFAT yang baik, Tingkah laku yang baik dan pengetahuan tentang
ATMA.... barangkali teman-teman pe-Meditasi Angka ingat sewaktu ada pemantapan 3 malam... Guru Prabhu telah pula menyampaikan tentang ATMA TATWA... ini adalah
dasar untuk mengetahui DIRI kita sendiri... yang diwajibkan kita selalu
mengucapkan setiap baru jaga dari tidur; “Ya Tuhan saya ini bukanlah badan...
saya adalah Roh/Atman....” Saya tidak perlu menjelaskan ini karena teman-teman saya yakin sudah memahaminya.....bahkan CD Wacana ini sudah dapat dipesan melalui teman-teman pe-Meditasi Angka.

BG menyatakan bahwa orang yang lemah tidak akan pernah mencapai kesadaran diri yang sejati, untuk memperoleh pengetahuan ATMA penting sekali mengendalikan
sepenuhnya perasaan SUKA dan KEBENCIAN atau keinginan dan amarahmu, karena kedua faktor inilah yang bertanggung jawab atas segala sesuatu di dunia ini. Jika
pengetahuan ATMA dimiliki dan ditumbuhkan dalam raga kita, maka kita akan
menikmati keharuman, serta kedamaian akan tersebar ke sekelilingnya. Sebaliknya
jika kita diliputi oleh persaaan yang buruk, pikiran yang buruk dan perbuatan
yang buruk, semua itu akan mencemari hatimu dan akan meracuni ORANG LAIN pula.
Untuk hal ini ada sebuah ceritera...Prahlada (Pra=berkembang,
Ahlada=kegembiraan/kebahagiaan) artinya sesorang yang selalu berbahagia... putra
raja raksasa yang bernama HIRANYAKASHIPU adalah salah seorang abdi Tuhan yang paling hebat dan dapat dianggap seorang yang percaya sepenuhnya kepada yang ESA/Tuhan... sikap ini dikatakan bahwa memang sudah bawaan dari lahir (tidak dipelajari). Walaupun dihadapkan pada berbagai kesulitan apapun, Prahlada dapat terus menikmati kebahagiaan dirinya yang sejati dan mengetahui adanya Tuhan dalam hatinya. Jadi singkat cerita... dikatakan bahwa sifat buruk atau enam
musuh dalam diri( marah, nafsu, irihati, dengki, loba, sombong dan lain-lain)
bila ini merasuki dan bercokol dalam diri kita, maka kegiatan spiritual apapun
yang dilakoni akan sia-sia..dan kehidupan kitapun akan sia-sia belaka

Sriguru,
Sutisna
---o0o---











Selamat Di Jalan Spiritual
Menjaga Ketundukan Hati ( Bag. 2)
Jangan Kotori Tanganmu Dengan Urusan-urusan Tidak Perlu
Kebanggaan Dalam Harta Dan Kecerdasan Hanya Menunjukkan Bahwa Kau Tidak Kaya Dan Tidak Terpelajar
Jangan Kecil Hati Jika Pasukan Lalat, Nyamuk Dan Kala Jengking Tidak Mendukungmu
Menjaga Ketundukan Hati ( Bag. 1)
Salah, Jika Kau Menganggap Orang Mencakupkan Tangan Berarti Menyembah Dirimu
Minuman Penyegar Seorang Guru Spiritual ( Bag. 2)
Minuman Penyegar Seorang Guru Spiritual ( Bag. 1)
Jangan Mencoba Memegang Tuhan Tetapi Biarlah Tuhan Memegangmu. Itulah Jalan Yang Selamat Bagimu
Sudah Waktunya Kita Berhenti Merintih, Sebab Ia Bukanlah Nyanyian Penyejuk Sukma
Karawang Yatra
Bunuh Diri Bukanlah Tindakan Pengecut, Bukanlah Dosa Melainkan Ia Adalah Neraka Itu Sendiri
Engetahuan Suci Memerlukan Hati Yang Suci Bersih Dan Bukan Status, Kedudukan, Kasta Maupun Keterpelajaran Duniawi
Jangan Pernah Bermimpi Bahwa Orang Yang Tangannya Terbelenggu Rantai Emas Akan Mampu Membukakan Ikatan Tanganmu
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-7, Puncak Perayaan & Inisiasi
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-6, Ke Lempuyang
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-4, Pemantapan Meditasi Ii
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-3, Pelayanan Kesehatan Gratis
Liputan Hut Medang Tahun 2010 Hari Ke-2, Lomba Anak-anak

Gerakan Suryanamaskar