Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
SUDAH WAKTUNYA KITA BERHENTI MERINTIH, SEBAB IA BUKANLAH NYANYIAN PENYEJUK SUKMA
Posted by Tamtam Setiawan on 2010-05-05
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Kini tibalah kita menutup Renungan 106 terdahulu:

"Sudah waktunya kita berhenti merintih, sebab ia bukanlah nyanyian penyejuk
sukma." (Darmayasa)
---o0o---

Noni:

Salam kasih,

Inilah yang saya belum bisa...hiksss...., andai bisa tetap stabil emosinya apapun
keadaan yang terjadi.... pasti hidup akan bahagia....

Sriguru

Denoni
---o0o---

Mangku Danu:

Salam Kasih,

Renungan kali ini sangatlah dalam, mengapa demikian?
Walau banyak kata bijak, sumber rujukan, yang menganjurkan agar kita tidak
hanyut dalam kepedihan (derita), tapi sungguh hal yang barangkali nyaris
mustahil, tapi bukan berarti tidak mungkin..?

Mengapa Guruji menyodorkan bahan renungan ini tentu dengan maksud agar kita
bangun dan bangkit dari rintihan nestapa yang mengambil banyak perwujudan.
Saya jadi ingat salah satu petikan sloka yang mengatakan bahwa setiap manusia
tak bisa luput dari kelahiran, berkembang, suka, duka, usia tua, penyakit dan
akhirnya mati. Jadi semua yang terjadi/menimpa diri kita adalah siklus alamiah
hidup. Dengan usaha (kerja keras) untuk belajar menghadapi saat ini sebagai kenyataan, dan selalu bersyukur-barangkali akan bisa membantu.

Saya juga pernah mengalami masa-masa yang teramat sulit sampai sempat terlintas
seperti renungan sebelumnya "bunuh diri", tetapi dengan mengingat ANGKA dan
membayangkan wajah Guruji yang penuh welas asih dan DHUNA GURU yang seolah
memeluk saya, saya anggap saat saya merintih adalah saat saya memang harus
membersihkan diri.

Maaf jika kurang pas, sungkem sujud saya haturkan kepada Guruji dan Dhuna Guru

Sriguru
Mk. Danu
---o0o---

Widyasthana:

Salam kasih,

Rintihan tak hanya terucap dibibir
tapi juga tergores di hati
Bahkan hati yang paling dalam
Berhenti merintih di bibir itu mudah
Senyum di bibir, orang mengira kita bahagia.
Rintihan di hati mungkin tergores lebih lama dan dalam.
Hanya dengan penyerahan diri pada Tuhan
dan keyakinan bahwa di balik setiap peristiwa ada hikmah
maka kita bisa menghapus setiap rintihan.
Walau perlahan tapi pasti.
Yakin bahwa Tuhan selalu beri yang terbaik bagi kita.
Dalam duka apapun.
Mungkin tak nampak hari ini melainkan akan kita sadari kelak di kemudian hari.

Damai,
paw
---o0o---

Suryantha:

Salam Kasih,

Om Sri Sri Guru...

Kemarin mungkin setiap ada masalah akan terasa perih di dalam dada, kadang
karena tidak kuasa menahannya tanpa sadar bibir hamba merintih, namun setelah
jalan keluar dari masalah itu diketemukan, ritihan itu berkurang dan rasa perih
didadapun ikut hilang senyuman manispun menghiasi bibir. Kejadian seperti itu
terus-menerus terjadi dari hari-kehari hingga hari kemarin.

Sekarang, jika ada masalah sedikit saja hamba langsung ingat guru, ingat angka, ingat program angka atau duduk diam sejenak memohon kepada Om Sri Dhuna Guru, (manja!) alhasil rasa perihnya tidak akan sampai dibibir walau jalan keluar belum ditemukan. Itu artinya ketika masih belum mempunyai tempat bergantung dan berlindung ada masalah sedikit saja, akan bingung dan merintih-rintih, tapi
ketika sudah mempunyai tempat bergantung dan berlindung, pastilah! tidak mudah
lagi untuk merintih. (sampai hari ini ya seperti itu?). Jadi teringat sama Prahlada Maharaja bagaimana Beliau ketika berusia 5 tahun sangat di musuhi oleh Ayah kandungnya hanya karena bergantung dan berlindung pada Sri Vishnu musuh ayahnya. Ayahnya yang sakti plus memiliki ribuan mahluk menyeramkan itu berusaha untuk menyiksa dan membunuh Prahlada Maharaja yang masih sangat muda, namun sedikitpun tidak ada rintihan terdengar dari mulut mungil itu, hanya nama suci Sri Vishnu yang terdengar dan itu membuat Ayahnya semakin murka, bagaimanapun murkanya sang ayah Prahlada tetap saja jauh dari rintihan, hanya senyuman yang menghiasi bibirnya, ini adalah contoh yang luarbiasa bagaimana perlunya tempat bergantung dan berlindung. Semoga setelah hamba yang sudah berada didalam kapal yang kuat dan dinahkodai oleh Nahkoda yang berpengalaman dan penuh kasih murni ini, tidak lagi mudah merintih hanya karena hal-hal yang hanya dapat menyentuh badan.

Ada yang bilang ; Hamba ini bukan badan?, Hamba ini bukan pikiran?, Hamba ini bukan kecerdasan?, Siapakah Hamba?, Dari mana hamba berasal?.

Jaya Sri Dhuna Guru!.

Damai,
Suryantha
---o0o---











Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud
Kucing Putih Di Parama Dhama

Gerakan Suryanamaskar