MINUMAN PENYEGAR SEORANG GURU SPIRITUAL ( BAG. 1) Posted by Darmayasa on 2010-05-28 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Pada suatu hari di bulan November Tahun 2009, saya sedang duduk-duduk di depan komputer, di sebelah saya pesawat televisi sedang menyala dan sedikit ribut. Ketika saya lirik, ternyata sedang ada penayangan film silat anak-anak. Kalau tidak salah film itu yang dulu sempat sangat terkenal, "THE KARATE KID". Pada waktu itu si jago karate kid (Ralph George Macchio) membantu guru karatenya yang orang jepang untuk mewujudkan impiannya dalam kecintaannya pada tumbuhan bonsai.
Ternyata dalam film itu ada beberapa pelajaran yang kita sebagai pe-Meditasi Angka perlu menyimaknya. Saat itu si murid karate berusaha memuaskan gurunya dan... akhirnya ia berhasil melakukan pelayanan terindah untuk gurunya. Apakah bentuk pelayanan terindah bagi seorang murid kepada gurunya?
Jawaban singkatnya adalah, si murid selalu mengintip kesenangan gurunya. Apa yang paling disenangi gurunya, maka itulah yang ia berusaha mempersembahkannya. Nah, si murid karate mempersembahkan tempat kepada gurunya, dimana gurunya akhirnya dapat mengembangkan hobinya dalam tanaman bonsai. Gurunya sangat senang dan sang guru akhirnya menghadiahkan ilmu karate yang cukup penting, ampuh serta rahasia kepada muridnya, yang ternyata belakangan menjadi senjata pamungkas hingga kelak akan membawanya mendapatkan kemenangan dalam pertandingan karate.
Itulah pelajaran pertama yang dapat kita simak dari film itu, Bahwa seorang murid hendaknya senantiasa berusaha memuaskan gurunya dan bukan sebaliknya mengecewakan gurunya. Ketika murid memuaskan guru, maka secara otomatis ilmu guru akan datang padanya. Namun sebaliknya ketika murid mengecewakan gurunya, secara otomatis pula si murid menghalangi berkah guru datang pada dirinya.
Dalam hal berguru, pe-Meditasi Angka tidak dianjurkan mengabaikan kepentingan hubungan indah guru dan murid. Di sini kita tidak mengarah pada kepentingan guru atau kepentingan murid, melainkan pada kepentingan guru dan murid. Harus kita catat bahwa guru tidak akan eksis tanpa keberadaan murid, demikian pula murid tidak mungkin dapat eksis tanpa keberadaan guru.
Guru dan murid haruslah menyatu. Ya... menyatu dalam keseluruhan. Sedangkan kebanyakan yang terjadi adalah murid menyatu dengan guru hanya eh.... sebaiknya ditulis dalam huruf besar saja..., HANYA ketika guru setuju pada segala kegiatan yang ingin dilakukan si murid. Akan tetapi, ketika guru menasihatinya dan/atau guru tidak setuju pada keinginan murid, maka si murid tidak mau menyatu dengan gurunya. Atau ketika gurunya atas permainan tenaga MAYA Tuhan YME menunjukkan dirinya sedang berada dalam masalah, maka si murid juga tidak siap menyatu dengan gurunya, bahkan malah lari menjaga jarak sejauh mungkin dari jangkauan gurunya.
Oleh karena itulah saya menggarisbawahi, bahwasanya guru dan murid hendaknya menyatu dalam keseluruhan. Karena hanya ketika itulah akan dimungkinkan terjadinya kemajuan bagi si murid dan juga bagi si guru. Murid maju karena belajar dan melakukan pelayanan pada gurunya, sedangkan guru maju karena mengajarkan dan memberikan kesempatan pelayanan pada muridnya. Inilah hubungan timbal balik yang sangat indah.
Mungkin seorang murid sering ragu, di saat ingin menyatu dengan gurunya, di saat ingin minta izin melakukan sesuatu, saat ingin melaporkan sesuatu, dan lain-lain, apakah ini akan menggangu guru atau tidak? Nah, pertanyaan ini pula dijawab oleh film karate kid itu, bahwa guru telah memasang pohon bonsai di pot nya, tinggal sekarang adalah kewajiban sang tumbuhan bonsai yang mencari jalan dengan cara mengembangkan akarnya dengan bebas. Guru memberikan "mantram/angka" pada kita, dan kita bebas mengembangkan power dari mantram/angka itu. Bebas dalam artian segala bentuk kemajuan ada pada ketekunan men-sidhi-kan angka pilihan yang telah diberikan power oleh guru.
Di dalam pelayanan, kita tidak harus mengganggu guru kita dengan laporan-laporan formalitas, karena ia hanya akan mengekang gerak langkah maju sang murid, dan guru juga tidak menyukai sesuatu yang berbau formalitas. Bahkan seringkali Guru bahkan ingin melihat muridnya melakukan kesalahan di dalam pelayanan yang ia lakukan. Tentu saja kesalahan yang dilakukannya dalam melaksanakan pelayanan bukanlah kesalahan yang disengaja, melainkan kesalahan pelayanan karena kekurangan si murid itu sendiri. Sekali lagi bukan kesalahan yang disengaja. Karena kesalahan dalam melaksanakan pelayanan yang tulus seperti itu akan menjadi minuman penyegar bagi seorang guru spiritual.
(.....Bersambung.....)
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no. 161
|