MENJAGA KETUNDUKAN HATI ( BAG. 1) Posted by Darmayasa on 2010-06-25 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Tersebutlah seorang Raja yang bernama Maharaja Dilipa. Beliau adalah penguasa Kerajaan Ayodhya, sama dengan Kerajaan Shri Rama karena memang Maharaja Dilipa adalah leluhur Shri Rama.
Pada suatu hari, istri beliau mengeluhkan keadaan mereka yang belum juga mendapatkan karunia seorang putra. Setelah beberapa lama berdiskusi, akhirnya diputuskan bahwa mereka akan segera pergi mengunjungi guru mereka, yaitu Maharesi Vasistha.
Maharesi Vasistha adalah sebutan guru bagi keluarga raja-raja Ayodhya. Maharesi Vasistha yang mengetahui penyebab permasalahan ketidakberadaan keturunan Maharada Dilipa, akhirnya memberikan petunjuk. Dahulu, ketika Maharaja Dilipa berkunjung ke Surgaloka, beliau bertemu Dewa Indra, dan ketika kembali ke Bumi, karena saking terburu-burunya beliau tidak melihat sapi suci Kamadhenu dan tidak menyapanya.
Oleh karena Maharaja Dilipa adalah seorang raja yang sangat saleh, maka kesalahan seperti itu adalah kesalahan yang dianggapnya sangat penting dan serius. Bagaikan semisal seorang mentri lewat di air port, kemudian saking tergesa-gesanya ia tidak melihat keberadaan Presiden yang kebetulan juga ada di sana dan tidak menghormat, maka tentu saja sebagai Presiden jika tidak memberikan sangsi maka beliau dapat dianggap 'tidak menjaga kepresidenannya'. Begitu pula karena Maharaja Dilipa adalah seorang raja yang suci, maka beliau tanpa sadar telah melakukan kesalahan fatal. Kamadhenu adalah sapi suci, sapi surgawi yang juga penuh dengan aturan kesucian, karenanya jika beliau membiarkan kesalahan Raja Dilipa begitu saja, maka Kamadhenulah yang semestinya mendapatkan pahala tidak baiknya.
Oleh karena itu Kamadhenu lalu mengutuk Maharaja Dilipa agar tidak bisa mempunyai keturunan. Dan problemnya bisa selesai hanya jika Maharaja Dilipa melayani keturunan dari kamadhenu.
Resi Vasistha lalu menyampaikan semua kejadian yang beliau lihat melalui meditasinya. Dan demi mendengar penuturan gurunya tersebut, Maharaja Dilipa berkata, "Guru... sapi kan binatang suci dan penuh kasih, saya tentu saja dengan senang hati akan melakukan pelayanan pada sapi...".
Resi Vasistha berkata, "Ya... di ashramaku ada putri dari Kamadhenu yang bernama Nandini. Layanilah sapi itu dengan baik..."
Maharaja Dilipa segera menyatakan kesanggupannya untuk melayani Sapi Nandini. Keesokan paginya Maharaja Dilipa pergi ke kandang sapi. Melihat Raja Dilipa membawa tongkat gembala, Nandini mengerti bahwa dirinya akan dibawa ke hutan untuk mencari rumput segar. Nandini pun berjalan menuju hutan, sedangkan dari belakang Maharaja Dilipa mengikutinya dengan penuh kewaspadaan menjaga Nandini dari segala bahaya. Bahkan pelayanannya dilakukan dengan penuh rasa bhakti, sehingga satu ekor lalat pun tidak pernah dibiarkannya hinggap di tubuh Sapi Nandini. Ketika Nandini bergerak maju, maka Maharaja Dilipa pun bergerak maju. Demikian pula halnya ketika Nandini berhenti, Raja Dilipa juga ikut berhenti. Dan Raja Dilipa hanya meminum air ketika sapinya pergi ke sungai meminum air.
Di saat hari beranjak senja, ketika sapi bergerak pulang menuju Ashrama Guru Vasistha, Raja Dilipa ikut pulang ke ashrama. Di ashrama, permaisuri raja, Maharani Sudakshina segera memuja Sapi Nandini dan malam hari menyalakan lampu dipa di kandang sapi. Raja Dilipa sendiri pada malam harinya tidur di kandang sapi.
Demikian kegiatan yang dilakukan Raja Dilipa sehari-hari melayani Sapi Nandini. Tibalah pada hari ke-30, ketika sedang berada di dalam hutan, karena beliau adalah seorang pecinta keindahan, Raja Dilipa terpesona oleh kecantikan alam sekitarnya.... Dan matanya terpesona pada suatu bunga yang sangat indah... sehingga sangat menawan hatinya dan ia pun terlelap dalam keindahan bunga tersebut sehingga perhatiannya lepas dari Sapi Nandini.
Tiba-tiba beliau tersadar bahwa beliau saat itu sedang bersama Sapi Nandini. Dan.... apa yang terjadi? Ternyata Sapi Nandini telah hilang dari pandangan Raja Dilipa. Setelah sekian lama dicari-cari..... akhirnya terdengar suara rintihan Sapi Nandini. Alangkah kagetnya Raja Dilipa demi melihat Sapi Nandini telah berada dalam cengkeraman seekor singa besar. Raja Dilipa segera bergerak hendak mengeluarkan busur dan anak panah, tetapi tangannya segera terkunci dan beliau pun tidak bisa bergerak sama sekali. Tiba-tiba singa itu berbicara dalam bahasa manusia dan berkata, "Raja Dilipa, aku bukanlah singa sembarangan, tetapi aku adalah singa pelayan Dewa Shiwa. Saat ini aku sangat lapar dan sapi ini datang sendiri ke dalam cengkeramanku, maka itu artinya ia telah menjadi hakku, maka dari itu engkau pergilah dari sini.”
(.....Bersambung.....)
Sriguru,
Darmayasa
Renungan no. 163
|