JANGAN KECIL HATI JIKA PASUKAN LALAT, NYAMUK DAN KALA JENGKING TIDAK MENDUKUNGMU Posted by Tamtam Setiawan on 2010-07-05 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Setelah beberapa waktu dibahas bersama di milis, kini tibalah saatnya menutup renungan ini, berikut pembahasan teman-teman.
Renungan 109 terdahulu:
"Jangan kecil hati jika pasukan lalat, nyamuk dan kala jengking tidak mendukungmu" (Darmayasa)
---o0o---
Suryantha:
Salam Kasih,
Kebesaran hati akan seketika menjadi berkecil hati jika pikiran lemah, pikiran yang lemah adalah salah satu ciri bahwa pikiran masih menjadi tempat bersarangnya sang hawa nafsu, sehingga Pikiran mudah terombang-ambing alias kurang mantap, dan akan mudah di pengaruhi oleh hal-hal yang kecil dan remeh (pasukan lalat, nyamuk, kalajengking). Hanya ketika kita mengunakan baju-baju itu (salah satunya adalah baju pikiran) untuk menggosok/membersihkan singasana di dalam hati kita; mengosok perlahan dengan teliti (berfikir selalu tentangNYA senantiasa secara Khusuk) hingga singasana bercahaya kembali yang kemudian dipersembahkan bagi paramaatma, maka berkecil hati akan menjauh.
Pertanyaannya, apakah mungkin dengan waktu yang tidak menentu ini kita dapat berhasil melakukannya? Mari berbesar hati dan serahkan segalanya pada guru, beres!
Suryantha
---o0o---
Hari Dharma:
Pasukan lalat, nyamuk dan kalajengking;
Lalat suka hinggap di dalam kotoran...
Nyamuk suka menghisap darah...
Kalajengking sangat beracun...
Jadi kenapa mesti berkecil hati jika tidak mendapat dukungan dari mereka....?
Hari
---o0o---
Tamtam:
Salam Kasih,
Kita mesti introspeksi ke dalam dulu, apakah yang dimaksud adalah: lalat (kekotoran Hati) Nyamuk (kerakusan) dan Kalajengking (racun/sifat menyakiti orang lain)? Kalau ya, berarti kita memang harus rela mereka tidak mendukung keseharian kita dalam rangka meniti jalan spiritual berdasarkan divine love.
Rasanya mudah ditulis/dibicarakan tapi untuk melaksanakannya? hmmm..... perlu kerja keras yang sungguh-sungguh... karena menyangkut pengendalian dari "pikiran-perkataan-perbuatan".
(Tamtam)
---o0o---
Mangku Danu:
Salam Kasih,
Seseorang yang telah mengambil sebuah komitment (tapasya) untuk berjalan di jalan Kasih, rohani, spiritual, kebajikan. (Dharma); seyogyanya sudah tidak perlu lagi terlalu banyak melibatkan diri dalam perkumpulan yang tidak mendukung kemajuan jalan yang telah kita pilih, karena jika kita masih suka berkumpul dengan pasukan lalat (baca:kumpulan yang suka pada bangkai) yang tidak sehat dan lama kelamaan akan memancarkan aroma busuk. Jadi tak penting sering bergumul dengan orang-orang yang suka membuat gosip, membicarakan kelemahan dan kejelekan orang lain, karena jika ini dilakukan maka kita akan mengalami hambatan besar dalam kemajuan pada jalan rohani yang kita pilih.
Demikian pula kita mesti mengurangi kebiasaan bergantung hidup pada orang lain, seprti nyamuk yang biasa hidup karena mengisap darah mahluk lainnya. Tidak perlu kesana kemari untuk mencari penyelamatan, jika kita sudah memilih "Medang" sebagai jalan menujuNya. Karena jika ini dilakukan, kata Guruji, kita hanya akan capek menggali sumur disana sini namun tak pernah mendapatkan airnya. Intinya adalah Humble & Fokus pada jalan yang telah kita pilih bersama Medang. Jalan lain tak usah dihiraukan, karena yang tampak mudah, indah dan menjanjikan bisa jadi malah menggugur-rontokkan usaha yang telah dengan susah payah dibangun..
Sriguru,
Mangku Danu
---o0o---
Janie:
Salam Kasih,
Jika pasukan lalat, nyamuk dan kalajengking tidak mendukung kenapa musti berkecil hati? Abaikan saja, karena kita tidak butuh dukungan makhluk-mahluk remeh seperti itu dalam pencarian spiritual kita, mereka hanya berniat mangganggu dan menyakiti kita dan berusaha menjauhkan kita dari kegiatan indah spiritual kita dan hanya akan menjerumuskan kita pada kegiatan kotor yang mereka lakoni. Kalau mereka berhasil membawa kita pada kegiatan mereka, maka mereka akan sangat berbangga hati dan hasilnya kita akan jatuh sedalam-dalamnya di kedalaman lumpur maha pekat, kotor dan bau. Sebisanya kita menjauh dan berupaya mengalihkan pergaulan kita ke dalam pergaulan yang baik & indah.
Di sini saya artikan bahwa, pada dasarnya dalam pencarian spiritual kendala yang kita hadapi sangatlah banyak, hidup dengan orang dari berbagai kalangan dan karakter dan juga suguhan kegiatan material yang begitu menggiurkan menyebabkan kita terlena dan semakin menjatuhkan kita dari dunia spiritual. Di sini diperlukan pergaulan dan dukungan dari orang-orang yang memang bonafid dan bisa mengarahkan kita ke dalam jalan bhakti, dan otomatis untuk mencapai itu kita tidak perlukan dukungan orang-orang yang bukannya mendukung kegiatan kita tapi justru mengarahkan kita ke dalam jalan yang sesat.
Damai,
Nyoman Janie
---o0o---
Noni:
Salam Kasih,
Dari tiga kiasan (seandainya 3 binatang tersebut adalah kiasan), Lalatlah yang paling sulit di hindari, disamping jumlahnya banyak, sedikit saja ada pencetus bau busuk maka bianatang ini datang menyerbu, dia datang tidak sendirian tapi mengajak puluhan teman-temannya. Demikian saya rasa dengan pikiran-pikiran negatif, dia mirip sekali dengan lalat, kalau pemikiran kita isi dengan hal-hal harum, lalat-lalat tak akan mendekat, namun sedikit saja ada pemikiran negatif melekat di kapala, entah dari mana datangnya lalat, dia datang dalam jumlah tak terkira, mungkin ini tujuan Guru agar kita sesering mungkin mengulang-ulang angka pilihan, agar pikiran di bersihkan secara berkelanjutan agar kita tidak di dukung oleh pasukan lalat.
Sriguru,
Denoni
---o0o---
Adi Candra:
Salam Kasih,
Beberapa rekan memberikan arti baru/makna filosofis terhadap lalat, nyamuk dan kala jengking. Namun saya lebih memilih arti harfiahnya, makna apa adanya, seperti yang disebutkan oleh Mangku Danu. Bahwa kita tidak perlu berkecil hati, hanya karena lalat, nyamuk dan kala jengking tidak mendukung kita. Tentu saja....tidak ada alasan sedikit pun untuk berkecil hati. Kita sudah (berusaha) untuk berada di jalan spiritual (meskipun kita belum memasuki pintu gerbang spiritual), paling tidak...kita sudah berada di jalur/rel yang "benar". Kita sudah berada di pergaulan Meditasi Angka yang "indah". Jadi tak ada alasan untuk berkecil hati, tapi malah sebaliknya, kita harus bahagia/bersyukur, bahwa Tuhan telah menunjukkan jalan yang indah. Selanjutnya "terserah kita", apakah kita mau FINISH dengan cepat dengan berusaha keras sekuat tenaga, atau dengan jalan SANTAI sambil menikmati keindahan di kiri kanan kita.
Tuhan telah mempertemukan kita dengan jalan Medang yang Indah. Tuhan telah mempertemukan kita dengan Guru dan Guruji yang bonafid. Tinggal sekarang tugas kita untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga kita menjadi murid yang qualified, sehingga bisa menjadi murid yang BERHASIL.
Salam damai,
adi
---o0o---
Hari Dharma:
salam kasih,
Kalau sudah merasa di jalan yang benar(di jalan Tuhan dimana Tuhan yang memegang kita) jadi buat apa peduli dengan pasukan kalajengking (yang berbisa, yang dapat menyakiti kita), nyamuk(penghisap darah yang suka mengambil keuntungan saja dari kita), dan pasukan lalat(yang suka hinggap di kotoran, maksudnya suka hinggap di kehidupan material)...
Jadi menurut hari, jalan terus pantang mundur.... (merdeka!!!) hehe
Sriguru,
Hari
---o0o---
Herry Ermawan:
Salam Kasih,
Jangankan tidak didukung oleh pasukan lalat, kala jengking dan nyamuk, bahkan mungkin jika teman dekat, famili atau bahkan jika semua mahluk di semua alam semesta dan dimensipun tidak mendukung langkah maju kita di dalam kebenaran seharusnya kita tidak berkecil hati.
Alkisah, para Suci atau Nabi yang "ditugaskan" di bumi ini mengalami banyak penentangan yang luar biasa, dikhianati, mendapat fitnahan yang keji dari banyak manusia lain. Jika kita menonton film "Litle Krishna", dikisahkan bahkan para Dewapun mencoba menghentikan tindakan-tindakan baik dari Shri Krishna.
Di Cina sampai sekarang ada satu aliran yang dilarang oleh pemerintahnya, tetapi ratusan pengikutnya yang setia, rela mati dalam penjara karena mempertahankan keyakinannya .....luar biasa...
Tetapi soal kebenaran sejati....... kita semua seperti orang buta yang membayangkan bentuk gajah. Kebenaran sejati akan selalu menjadi misteri. Bagi kita orang awam, bagaimanapun kita harus mempercayai sebuah "kebenaran" yang diperoleh dari sumber (kitab suci, guru) yang dipercayai dan kita harus punya kepercayaan diri bahwa dengan mempraktikkan kebenaran itu akan bisa membawa kita maju menuju kebenaran sejati, yang sudah kita pilih, harus secara konsisten dipertahankan......paling tidak dalam kehidupan ini. Jangan mudah berpaling walau apapun atau siapapun tidak mendukung atau menentang kita.
Sriguru,
Nang Jempaluk
---o0o---
|