JANGAN KOTORI TANGANMU DENGAN URUSAN-URUSAN TIDAK PERLU Posted by Tamtam Setiawan on 2010-08-01 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Sebagai penutup, berikut kami kirimkan kumpulan Pembahasan Renungan 111
terdahulu yang dikirimkan ke milis:
"Jangan kotori tanganmu dengan urusan-urusan tidak perlu, sebagaimana Hanuman tidak mempergunakan tangannya membakar istana Lengka melainkan dengan
ekornya." (Darmayasa)
---o0o---
Dendi:
Salam Kasih,
Kesulitan dari wejangan ini adalah : selama kita hidup di dunia, kita tidak
pernah bisa untuk mau membatasi diri dengan jelas "dengan urusan-urusan tidak
perlu". Bahkan mencari jalan spiritual pun masih banyak orang yang pilih-pilih mana
jalan yang nyaman, mudah dan enak..
Dendi
---o0o---
Suryantha:
Salam Kasih,
Baru membaca renungan ini pikiran saya langsung tertuju kepada Hanuman, sosok
teladan dalam bhakti, seluruh dari pikiran, kata-kata dan perbuatanya adalah
sepenuhnya diserahkan kepada yang paling tinggi baginya yaitu Sri Rama, bukan
itu saja Hanuman adalah *perwujudan dari pengedalian* lidah, perut dan kemaluan.
Jadi, jika kita tidak sepenuhnya bercermin kepada Hanuman, maka rasanya sulit
menghindari dorongan untuk melakukan urusan-urusan tidak perlu yang mengotori
tangan kita.
Guru bersabda "jangan!" tetapi kadang kita tidak mampu untuk tidak melanggarnya.
Hal apakah yang menyebabkan pelanggaran itu? Untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini kita harus sungguh-sungguh bercermin kepada Hanuman.
Suryantha
---o0o---
Tamtam:
Salam Kasih,
Kalimat Urusan yang tidak perlu yang dimaksudkan disini mungkin segala urusan
yang merusak diri sendiri dan orang lain. Seperti mendiskusinya keburukan orang
lain, memikirkan keburukan orang lain, berdebat kusir untuk mencari pengakuan
dari orang lain bahwa kita lebih dari orang lainnya, dan lain sebagainya yang
dapat dikatagorikan sebagai urusan tidak perlu. Untuk hal ini, kita memang tidak
perlu memasang telinga dan mulut, tetapi telinga dan mulut terbuka dalam keadaan
pikiran tidak dibebankan untuk terlibat. Artinya kita mungkin tidak sopan
menginggalkan seseorang yang datang ke kantor kita untuk membicarakan keburukan teman kerjanya, tetapi anggukan kepala dan pandangan tetap tertuju kepadanya akan sangat membantu orang yang datang tersebut untuk membuang "sampah-sampah" yang menumpuk di kepalanya..., sedangkan di lain pihak kita tidak ikut menyimpan dalam kepala kita sehingga tidak terseret untuk menyebarkan cerita buruk yang belum tentu benar tersebut, terlebih jika kita ikut membenci orang yang belum tentu seburuk yang diceritakan seseorang kepada kita.
Mungkin itu yang dimaksud dengan sebagaimana Hanuman membakar Lengka dengan ekornya (?).
(Tamtam)
|