MENJAGA KETUNDUKAN HATI ( BAG. 2) Posted by Darmayasa on 2010-08-06 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Raja Dilipa segera menghormat pada singa itu sambil berkata, "Saya menghormat pada anda sebagai pelayan Dewa Shiwa, anda pastilah pelayan yang pemurah hati, untuk itu saya memohon agar sapi itu jangan dibunuh.”
Namun singa tersebut tidak mau melepaskan Sapi Nandini. Meskipun dengan berbagai daya dan upaya oleh sang raja dibujuk lagi, lagi, dan lagi....., tetap saja singa tersebut tidak mau melepaskan Nandini. Akhirnya Raja Dilipa mengatakan bahwa karena Sapi Nandini adalah milik gurunya, maka Raja Dilipa siap menjadikan dirinya tumbal sebagai pengganti jika Nandini segera dibebaskan. Namun singa tetap bertahan dan sebaliknya membujuk agar Maharaja Dilipa tidak mengorbankan jiwanya hanya untuk Nandini. Kalau tokh Raja Dilipa menyayangi sapi, beliau bisa melayani ribuan sapi lain lagi.
Akan tetapi Raja Dilipa tetap bersikeras untuk menukarkan Nandini dengan jiwanya. Akhirnya singa berkata, "Baiklah... tidak masalah..." Maka saat itu pula tangan Raja Dilipa menjadi normal kembali. Beliaupun segera meletakkan busur dan anak panahnya. Singa pun segera memenuhi janjinya dan melepaskan Nandini. Raja segera mendekat dan bersimpuh di hadapan singa untuk menyerahkan hidupnya. Ketika ia bersiap-siap menerima cengkeraman kuku dan taring tajam singa, tiba-tiba ia merasakan hujan bunga yang sangat harum semerbak turun dari langit membanjiri kepalanya. Dan ketika mendongakkan kepalanya beliau tidak mendapati ada singa lagi di hadapannya.
Dan tiba-tiba Sapi Nandini berbicara dalam bahasa manusia, "Raja Dilipa.... sebenarnya tidak ada singa seperti yang tadi engkau lihat, karena akulah yang menciptakan ilusi itu untuk mengujimu. Sekarang engkau telah lulus, karenanya aku berikan susuku kepadamu. Silakan kau ambil daun dan minumlah air susuku sepuasnya, maka engkau akan mendapatkan anugrah seorang anak yang sangat utama. Raja Dilipa segera menunduk serta menyembah Ibu Nandini serta berkata, “Susu itu adalah hak anak anda, saya boleh menerimanya hanya setelah guru saya memberikan izin dan setelah anak anda meminumnya.” Mendengar penuturan tersebut, Sapi Nandini segera mengiyakan, dan merekapun kembali pulang ke ashrama Maharesi Vasistha.
Singkat cerita.... Raja Dilipa akhirnya mendapat karunia seorang putra yang suputra, yang kemudian diberikan nama Maharaja Raghu. Dan dari sinilah terciptanya lagu Raghupati raghava raja ram, Patita pavana sita ram, Sita Ram Jaya Sita Ram, Jaya Sita Ram jaya jaya Hanuman. Sebuah lagu yang sangat dicintai oleh Mahatma Gandhi.
Pesan apakah yang terkandung di balik cerita ini? Ya... disini diceritakan bagaimana seorang menjadi murid memberikan penghormatan pada Gurunya, bagaimana seorang murid melaksanakan segala perintah Gurunya tanpa menimbang-nimbang apakah dirinya pantas melakukan perintah gurunya atau tidak. Dapat dibayangkan bagaimana patuhnya seorang Maharaja yang diperintahkan gurunya untuk menjadi penggembala Sapi. Di zaman sekarang ini sepertinya tidak akan pernah ada seorang Presiden yang rela disuruh penasehatnya untuk menggembalakan Sapi ke Hutan, apalagai mengorbankan dirinya untuk Sapi?
Namun hal itulah pelajaran yang dapat kita petik sebagai pe-Meditasi Angka yang hendaknya selalu menjaga ketekunannya dalam penitian jalan spiritual di bawah bimbingan seorang Guru yang bonafid, yang hendaknya selalu menjaga keyakinan penuhnya pada petunjuk gurunya. Hanya dengan cara itulah seorang pe-Meditasi Anga akan sampai dengan selamat pada tujuan Spiritualnya. Seorang pe-Meditasi Angka hendaknya selalu menanamkan dalam bathinnya bahwa kata-kata guru telah melihat, sedangkan murid dengan segala keterbatasannya hanya mampu menebak, bagaikan seseorang yang meraba-raba dalam kegelapan.
Pelajaran lainnya adalah bagaimana hendaknya seorang pe-Meditasi Angka menjaga ketundukan hatinya. Bahkan seperti pesan Prabhu Darmayasa, hendaknya kita menempatkan diri kita lebih rendah dari rumput di jalanan. Dari rumput juga kita bisa melihat bagaimana ia berusaha bangkit setelah diinjak-injak oleh manusia ataupun hewan lain yang lewat. Seperti yang juga pernah disampaikan dalam salah satu wejangannya, Prabhu juga mengingatkan para pe-Meditasi Angka, bahwa Tuhan hanya akan melihat insanNya yang tunduk hati. Hal inilah yang diajarkan oleh cerita diatas, bagaimana seorang Raja yang agung menempatkan dirinya tidak lebih tinggi dari Sapi. Padahal ia adalah Maha Raja dan bukan sekedar Raja biasa. Hanya dengan ketundukan hatinya saja Raja Dilipa mendapatkan berkah yang maha utama, yaitu seorang Putra yang Suputra.
Semoga semua berbahagia.
(.....Selesai.....)
Sriguru,
Darmayasa
|