KEBAIKAN UNTUK YANG LAIN (BAGIAN 1) Posted by Darmayasa on 2010-08-22 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Tersebutlah seorang Maharesi yang bernama Maharesi Atharva. Dari istrinya yang bernama Shanti, beliau memperoleh putra yang suputra, bernama Dadhici. Yang kemudian belakangan terkenal dengan sebutan Maharesi Dadhici. Sejak kecil Dadhici telah menunjukkan sifat-sifat mulianya dalam membantu orang-orang lain dan juga menunjukkan sifat bhakti kepada Tuhan. Setelah cukup umur beliau meminta izin kepada ayahnya untuk melakukan pertapaan di Gunung Himalaya.
Dadhici selama bertahun-tahun melakukan pertapaan di Gunung Himalaya, sehingga akhirnya beliau memperoleh pencapaian luar biasa di dalam Spiritual dan memiliki kesaktian tak terhingga, bahkan kesaktian yang para Dewa pun tidak memilikinya.
Pada waktu itu, seorang Raksasa sakti bernama Vritrasura sedang menyerang surga. Saat itu para Dewa mengalami kesulitan untuk mengalahkan Raksasa sakti ini. Sebagaimana tradisi perlindungan para Dewa, bahwa kalau mereka menghadapi kesulitan, maka satu-satunya jalan adalah menghadap dan memohon perlindungan pada Narayana. Maka akhirnya merekapun menghadap Narayana di Alam Vaikuntha.
Para Dewa memohon petunjuk dari Narayana bagaimana caranya untuk mengalahkan Raksasa Vritrasura. Narayana berkenan memberikan petunjuk dan berkata, "Raksasa Vritrasura tidak akan bisa dikalahkan dan tidak bisa dibunuh oleh senjata apa pun, karena sejak kecil ia adalah seorang penyembah Nagashesha yang sangat teguh. Hingga kemudian ia mendapatkan kesaktian luar biasa dari bhaktinya itu. Tetapi hanya ada satu jalan yaitu ia dapat dibunuh oleh senjata yang terbuat dari tulang Maharesi Dadhici. Saat ini beliau sedang bertapa di Gunung Himalaya. Saking kuatnya Maharesi Dadhici bertapa sehingga tulangnya mempunyai kesaktian maha dahsyat. Karena itu kalian pergilah ke sana dan mohonlah tulang dari badan beliau, maka Maharesi Dadhici pasti akan bersedia memberikan tulangnya karena beliau selalu senang membantu orang lain."
Demi mendengar petunjuk Narayana tersebut, Para Dewa akhirnya segera pergi ke Gunung Himalaya menjumpai Maharesi Dadhici untuk memohon bantuannya. Melihat kedatangan para Dewa, maka Maharesi Dadhici segera menyambut mereka dengan layak. Setelah selesai penyambutan, para Dewa mulai menyampaikan masalah yang mereka hadapi yaitu adanya serangan Raksasa Vritrasura ke Surga dan para Dewa memohon agar Maharesi Dadhici berkenan membantu mereka.
Maharesi Dadhici mengatakan bahwa beliau tidak memiliki alasan apapun untuk melakukan sesuatu kepada Raksasa Vritrasura karena ia tidak pernah berbuat kesalahan apa pun kepada Resi Dadhici. Oleh karena itu sangatlah tidak adil kalau Maharesi Dadhici melakukan sesuatu seperti mengutuk, menyerang, dan lain sebagainya, karena dengan demikian sama saja artinya beliau pasti akan berbuat dosa.
Para Dewa lalu menyampaikan bahwa kedatangan mereka ke sana adalah karena menginginkan tulang Maharesi Dadhici untuk dipergunakan sebagai senjata Vajra yang akan digunakan oleh Dewa Indra, karena menurut petunjuk Narayana hanya senjata yang bahannya terbuat dari tulang Maharesi Dadhici sajalah yang akan mampu membunuh Raksasa Vritrasura.
Akhirnya Maharesi Dadhici mengatakan bahwa dirinya siap memberikan tulangnya untuk para Dewa. Maharesi Dadhici berkata, "Setiap saat kematian pasti datang. Kalau memang aku mendapatkan kematian indah seperti ini dengan mengorbankan tulangku demi kedamaian Surga, maka aku akan sangat berbahagia."
Maka Maharesi Dadhici pun kemudian mengambil Asana (Tempat duduk khusus), lalu beliau duduk di atas Asananya untuk segera masuk ke alam Meditasi...lalu tidak lama keudian beliau pun memasuki tahapan Samadhi. Dan....akhirnya beliau melepaskan roh dari jasadnya.
Para Dewa kemudian mengambil tulang Maharesi Dadhici, yang kemudian dibuat menjadi senjata Vajra oleh Vishvakarma dan dipergunakan oleh Dewa Indra sebagai senjata sakti untuk mengalahkan Raksasa Vritrasura.
Demikianlah para Leluhur kita memberikan wejangan-wejangan tentang keindahan berbuat kebaikan demi yang lain dengan berbagai cara, dari cara yang sangat sederhana untuk melakukan kebaikan sekadar kepada orang lain, sampai dengan pengorbanan nyawa demi yang lain. Dalam renungan terdahulu kita telah menyampaikan cerita tentang Raja Dilipa yang juga siap mengorbankan nyawanya demi Sapi Nandini.
(.....Selesai.....)
Sriguru,
Darmayasa
|