MENJAGA HUBUNGAN DENGAN GURU / TUHAN (BAG.1) Posted by Darmayasa on 2011-07-22 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Pada suatu hari salah orang pe-Meditasi Angka datang berkunjung ke center meditasi angka di Jakarta. Kemudian dia menelpon dan bertanya, “Prabhu ada di mana?”. Saya jawab "ada di dalam hatimu..... coba dikorek-korek cari carilah di dalam tumpukan sampah-sampah di dalam hatimu... pasti ketemu..."
Kemudian dia menjawab, "Ahhh.... masa saya menempatkan guru didalam hati dengan cara menggabungkannya dengan sampah-sampah di dalam hati saya??? betapa berdosanya saya..."
Saya diamkan sebentar..... karena sedang bercanda dengan teman lain dalam chatting. mungkin karena tidak sabar menunggu, akhirnya teman yang bertanya tadi menelepon lagi menanyakan, “Guru... gimana itu? saya kan tidak mungkin menempatkan guru dalam tumpukan sampah-sampah?"
Saya jawab langsung, "buktinya anda melakukan hal itu..."
Lalu terdengar dia kaget "haaahhhh?!"
Saya teruskan menjelaskan, "Ya... anda telah dan sedang melakukannya.... cobalah direnungkan baik-baik, anda akan mengingat saya ketika sedang mengalami kesulitan saja, ya... anda mengingat saya ketika anda sedang dalam kesusahan saja..... tetapi ketika anda sedang mendapatkan rezeki.... anda hanya mengingat sang kekasih hati...., atau anda mengingat saya ketika anda karena suatu hal dianjurkan untuk masuk Rumah Sakit, kemudian disusul langkah menelepon berulang kali dan mendatangi saya ke Center Meditasi Angka di Slipi Jakarta. Bukankah begitu? Kemudian setelah sembuh... ehhhh... kembali lagi yang diingat hanya urusan Kantor dan kekasih hatinya… Adilkah itu?
Bahkan bukan hanya hal-hal yang disebutkan diatas saja, tetapi ketika ipar anda, ketika saudara/saudari anda, ketika mertua anda, ketika "pacar" eh...maksudnya mantan pacar anda mengalami kesedihan dan persoalan berat.... maka seketika itu juga anda mengingat saya dengan semangat juang 45 dan menyebut-nyebut guru yang mulia, dan lain-lain.
Tetapi begitu masalahnya telah pergi...eh....anda hanya ingat kekasih hati saja selama 108 jam sehari… maksudnya setiap detik...
Ada lagi sebuah cerita. Pada suatu kesempatan.... ketika istri anda dan beberapa teman pe-Meditasi Angka wanita lainnya membuatkan saya masakan khusus di Dapur Center Slipi-Jakarta. Kemudian seminggu setelah itu.... setiap hari anda mengingat saya, tetapi....dalam kecurigaan, kecemburuan dan marah.... hehehe… Dalam hati anda berpikir, mengapakah istriku melayani Prabhu? membuatkan makanan segala, padahal di rumah ia tidak pernah memasak untuk daku? mengapa oh mengapa?
Dan lain-lain yang cerita tadi hanyalah ilustrasi/fiktif saja, karena bertujuan untuk guyon, sambil menikmati Renungan kali ini.
Pada suatu saat, saya sedang di Jakarta dan sedang tidak berada di Slipi. Ketika kembali ke Center Slipi-Jakarta, ternyata di sana ada tamu yang katanya telah menunggu sejak dua jam sebelum kedatangan saya. Kemudian setelah bertegur sapa sejenak, lalu kita mengadakan percakapan ringan. Dari seluruh percakapan saat itu yang perlu kita share di sini adalah sebagai berikut. Salah seorang tamu yang berasal dari Jawa Tengah sana menyampaikan sebuah problem. Terakhir, setelah ceritanya selesai, yang bersangkutan mengatakan, "Ya....saya jalani saja....nanti lihat apa yang akan terjadi....."
Menanggapi kalimat tersebut, saya langsung memberikan tanggapan dengan meminta salah seorang pe-Meditasi Angka yang kebetulan ada disana untuk keluar kamar dan mengambil lampu senter yang tergantung di tembok di ruang tamu dekat meja makan. Ketika teman tersebut masuk kembali dengan tangannya membawa senter, segera saya minta beliau mematikan seluruh lampu yang ada di dalam ruangan.
Beliaupun melakukan apa yang saya minta setelah sebelumnya menyerahkan lampu senter ke tangan saya. Kepada tamu tersebut dan teman-teman lainnya yang kebetulan hadir di dalam ruangan saat itu saya berkata, “Saya ingin memberikan tanggapan atas pernyataan anda untuk menjalani semua ini. Ada tiga pilihan jalan atau cara untuk menjalani semua ini. Saya katakan, nah sebagaimana kamar ini berada di dalam kegelapan saat ini, begitulah kita berjalan di dalam kegelapan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Cobalah anda lihat... adakah yang anda bisa lihat dalam kegelapan?” Kemudian coba anda berjalan di dalam kegelapan... (Eh ternyata tamu itu bangun dan mulai berjalan....), kemudian lanjut saya katakan, “bukan,...bukan.... saya hanya memberikan sebuah perumpamaan, anda tidak perlu berjalan..., maksud saya, kalau anda berjalan di dalam kegelapan, adakah yang anda bisa lihat di depan anda? Tamu tersebut menjawab tidak ada.
Memang kita tidak bisa melihat apa pun di dalam kegelapan. Bahkan kalau misalnya ada patung raksasa yang sangat besar berada di depan kita, maka tetap saja kita tidak akan dapat melihatnya, terlebih lagi benda-benda kecil, kerikil, duri atau bahkan jarum.... sudah pasti kalau kita tidak akan dapat melihatnya karena keadaan memang gelap gulita, tanpa setitik pun cahaya.
Pilihan yang kedua adalah kalau kita mempunyai lampu penerangan..., seperti contoh yang saya ambil yaitu lampu senter. Kemudian saya peragakan dengan mengambil posisi berdiri dan bergerak ke arah depan. Tetapi ketika lampu senter saya arahkan ke belakang, apa yang dapat kita lihat di depan kita? Mungkin terlihat sedikit remang-remang dan kita bisa saja melihat jalan di hadapan kita, tetapi pandangan kita kedepan akan sangat tidak jelas. Maka kita pasti akan melakukan hal yang sama dengan pilihan pertama, yaitu tabrak sana, tabrak sini.
Pilihan pertama yang dapat kita lakukan adalah dengan berjalan sambil meraba-raba ke semua arah, dengan kemungkinan besar tabrak sana, tabrak sini. Dan ketika kita menabrak sesuatu, maka pikiran kita akan menasfirkannya sesuatu itu sesuai dengan keberadaan kesadarannya pada waktu itu.
Cerita dan penjelasan tentang hal ini diberikan dengan baik dan indah di dalam kitab-kitab rahasia hidup di dalam Upanishad, dengan penjelasan dan cerita, yaitu digambarkan sebagai mana beberapa orang buta yang hanya melihat dunia dalam kegelapan, meraba seekor gajah. Masing-masing orang menggambarkan sesuai dengan apa yang berhasil dipegangnya, ada yang mendeskripsikan telinganya, Belalainya, kakinya, ekornya, dan lain-lain sebagai gajah yang benar. Mereka sibuk bertengkar mempertahankan pendapatnya tentang deskripsi Gajah sesuai dengan yang mereka raba, karena mereka tidak “melihat”. Cerita ini sangat populer, bahkan ia telah menjadi kutipan banyak orang dari berbagai latar belakang untuk menjelaskan berbagai permasalahan.
(…Bersambung…)
Sriguru,
Darmayasa
|