Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
PERLUNYA LAMPU DI DALAM TERANG
Posted by Darmayasa on 2011-07-15
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Jika kita perhatikan dan renungkan, ternyata kita memerlukan lampu di dalam terang. Berikut ilustrasi yang saya ambil dari kejadian nyata agar kita mudah mencernanya. Pada suatu malam, saya masuk ke ruang Dhuna Guru dan mendapati ada beberapa orang teman pe-Meditasi Angka yang sedang meditasi di dalam. Ketika saya masuk, mereka ternyata sudah mulai menyelesaikan meditasinya dan segera keluar ruangan. Ketika sudah tinggal seorang diri, kemudian pintu Dhuna Guru saya tutup dari dalam, selanjutnya semua lampu disekitar area Dhuna Guru dimatikan. Segera semua teman-teman yang saat itu sedang berada di Center duduk dengan rapi, bermeditasi diluar, di depan ruang Dhuna Guru. Setelah beberapa lama, kira-kira sekitar satu jam, akhirnya acara meditasi bersamapun selesai. Teman-teman yang tadi bermeditasi Angka dengan khusuk mulai melaporkan pengalamannya.

Misalnya Miss Masha, melaporkan bahwa dengan mata terpejam ia melihat api yang besar. Sedangkan Miss Tanja yang berasal dari Lithuania, melaporkan bahwa ia melihat api menyala keluar dari sela-sela atap ruang Dhuna Guru yang tinggi. Malam semakin larut, Tetapi para tamu justru semakin berdatangan, bahkan teman-teman pe-Meditasi Angka dari Jakarta ada yang datang bersama keluarganya. Setelah menjamu para tamu dengan makanan ringan, dan minuman, saya bergegas masuk menuju Kamar Mandi, kemudian ketika keluar dari Kamar Mandi, sambil menoleh kearah mereka yang saat itu sedang makan, saya katakan bahwa, "Saya akan masuk ke ruang Dhuna Guru... anda semua boleh selesaikan makanannya, lalu bersihkan diri dan ikutlah Meditasi di depan bangunan Dhuna Guru".

Segera saya minta teman-teman yang saat itu bertugas piket di Center untuk mematikan semua lampu. Sebelum masuk ke ruang Dhuna Guru, saya sempatkan diri menelephone seseorang di Jawa sana, menyampaikan agar yang bersangkutan menyalakan dupa dan ikut ber-Meditasi Angka. Beberapa teman kembali menceritakan pengalamannya ketika mengikuti acara Meditasi Angka di tengah malam saat itu.

Keesokan paginya..., Miss Masha yang Warga Negara Rusia datang ke ruangan saya sambil membawakan minuman vinegar rasa apel. Sambil bercerita-cerita ringan, ia mengatakanbahwa tadi malam merasa agak kesal, karena di saat ia sedang chat dengan tiga orang temannya di Malta dan Rusia sana, salah seorang teman yang bertugas piket di Center datang meminta ia mematikan lampu. Masha bilang sebentar lagi. Tetapi karena setelah ditunggu agak lama, karena belum juga mematikan lampu, teman kita kembali mengatakan... "Mashaaa.... Mashaaa... " Karena teman tersebut tidak mengerti Bahasa Inggris, maka ia hanya bisa memberi isyarat dengan tangan yang ternyata tidak mudah untuk dipahami oleh Masha. Tetapi akhirnya ia mengerti dan mematikan juga lampunya. Karena itulah ia bercerita dengan agak protes. Lalu saya jelaskan kepadanya akan duduk permasalahannya. Akhirnya ia bilang, "Ooohh... pantesan lampu di kamar kecil tadi malam mati...., tapi pagi ini hidup... he he.. sekarang saya mengerti bahwa di malam hari kita tidak perlu lampu, tetapi justru siang hari kita perlu lampu...he he..." katanya sambil bercanda.

Mendengar pernyataannya saat itu, saya langsung menjawab, "Masha...sesungguhnya justru dalam terang kita perlu lampu". Namun sambil tetap bercanda ia tertawa dan tampaknya tidak paham akan maksud saya saat itu. Akhirnya saya jelaskan kepadanya sebagai berikut. Adalah sangat lumrah dan memang begitulah adanya, bahwa kita memerlukan lampu penerang di dalam gelap. Karena itulah kita menyalakan kampu di malam hari. Kita juga memerlukan bantuan lampu senter ketika melewati tempat-tempat yang gelap. Akan tetapi, dalam hal apa yang ingin saya jelaskan sekarang ini, bahwa kita memang memerlukan lampu di dalam terang, akan kita kupas maknanya dalam renungan kali ini.

Saat ini banyak orang terpelajar dalam hal spiritual, juga tersedia banyak informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan spiritual di dalam buku, cd, vcd, dvd, kaset, buku, internet, dan lain-lain, akan tetapi tidak banyak dari para pencari di jalan Spiritual yang berhasil memasuki “Praktik Spiritual”. Kemudian dari jutaan yang mempraktikkannya, jarang ada yang berhasil menekuni praktiknya. Dan dari ribuan yang menekuni Praktik, sangat jarang yang berhasil lolos dari ke”terperangkap”an ranjau-ranjau spiritual. Meskipun mereka telah berada di jalan terang, karena diterangi oleh pengetahuan dan informasi spiritual yang kaya, namun mereka mengabaikan adanya lapisan kegelapan di dalam terang. Mereka tidak melihat adanya kegelapan di dalam terang. Sebuah kegelapan yang ia harus tembus dan lewati dengan mulus.
Oleh karena itulah saat itu saya berpesan kepada Masha, bahwa lampu memang harus dinyalakan di siang hari, bahwa kita memang memerlukan lampu di jalan terang, karena di dalam jalan terang itu terdapat lapisan-lapisan gelap yang perlu ditembus dan dilewati. Adapun lapisan-lapisan gelap tersebut hanya dapat dilihat kalau dalam terang itu kita menyalakan "lampu senter". Di dalam Kitab Upanishad disebutkan bahwa "Hiranmayena patrena...", artinya, oleh sinar terang indah berkemilauan.... "Satyasyapihitam mukham..." artinya, kebenaran sejati itu tertutupi....

Bahwa yang menutupi mukha atau wujud kebenaran sejati itu bukanlah kegelapan, melainkan sinar terang benderang yang menyilaukan.... Bahwa segala kerlap-kerlip kesenangan duniawi, yang diwakili oleh Nama, Harta, Harga diri, Keakuan, Kecerdasan dan lain lain, semua yang serba indah cemerlang tersebutlah yang sesungguhnya menutupi keberadaan atau wujud dari kebenaran sejati. Hal inilah yang harus disadari oleh setiap pe-Meditasi Angka yang baik. Karena semakin seseorang maju di dalam jalan spiritual, maka sinar kemilauan terang-benderang dalam segala bentuk akan hadir, menghalangi yang bersangkutan untuk maju.

Kenapa dihalangi? Karena..., hanya mereka yang layak maju sajalah yang diizinkan melewati gerbang demi gerbang Spiritual, yang semakin indah membahagiakan bagi mereka yang lolos. Tetapi menjadi semakin menyakitkan, mendukakan, menyeramkan, membosankan dan lain-lain, bagi mereka yang belum siap. Jadi teman-teman yang tulus dan tekun di dalam praktiknya, saya harap agar semuanya selalu waspada setiap saat, agar tidak terpancing untuk mengabaikan gerbang demi gerbang yang harus kita lewati. Tidak ada lift untuk itu, yang ada hanyalah tangga demi tangga, lorong demi lorong, dan gerbang demi gerbang yang harus kita lewati dengan baik. Ia akan terlewati dalam keriangan spiritual bagi mereka yang "layak", tetapi akan sangat menyakitkan dan memberi kedukaan bagi mereka yang "belum layak" menjadi dan/atau menjadikan diri sejati sebagai sang peniti jalan spiritual sejati.

Demikianlah renungan kali ini, semoga semua diberkahi oleh Guru Sejati/Tuhan YME.

Sriguru,
Darmayasa











Godaan Spiritual (bag-2)
Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud

Gerakan Suryanamaskar