Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
MENJAGA HUBUNGAN DENGAN GURU / TUHAN (BAG.2)
Posted by Darmayasa on 2011-07-29
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Cerita tentang beberapa orang yang mendeskripsikan seekor Gajah dalam kegelapan pandangannya dengan meraba ini sebenarnya bertujuan untuk mengajarkan orang agar menghindari teknik meraba-raba dalam pencarian spiritualnya. Teknik meraba-raba ini di dalam ajaran upanishad dinamakan "NETI NETI" yang artinya bukan ini, bukan ini.... Biasanya kita suka meraba-raba kebenaran di dalam kegelapan, tanpa memiliki pengetahuan, tanpa memelihara kebersihan, tanpa menjaga kesucian, tanpa istink spiritual, dan tanpa bimbingan. Kita hendaknya menghindari meraba-raba di dalam ketidakberadaan pengetahuan.
Ketika kita berada dalam pencarian spiritual, kita memang harus menghidari teknik meraba-raba ini. Meskipun ia adalah suatu hal yang hampir kita semua melakukannya. Ternyata kita tidak melakukkan pencarian kita di jalan yang pas, karena kita mengarahkan arah lampu senter kita ke belakang. Kita dengan penuh semangat menerangi jalan di belakang yang sedang kita tinggalkan dan membiarkan jalan di depan kita berada dalam kegelapan. Maka cara satu dan dua diatas adalah jalan yang sama tetapi berbeda. Cara pertama adalah cara pencarian benar-benar didalam kegelapan maha pekat, karena ia sama sekali tidak disertai oleh penerangan sama sekali, sedangkan cara kedua adalah cara dengan menggunakan lampu senter tetapi arah cahaya lampu senternya ke belakang, sehingga yang terjadi adalah jalan di depan kita masih tetap gelap. Tetapi karena masih mendapatkan pantulan sinar dari lampu senter yang mengarah ke belakang, memang kita masih dapat sedikit, alias samar-samar penerangan dalam skala kecil dan redup, sehingga perabaan itu masih tetap kurang lebih sama dengan cara pertama.

Adapun cara yang ketiga dalam berjalan dalam kegelapan adalah dengan bantuan lampu senter yang diarahkan tepat ke depan jalanan kita. Pada cara ketiga ini kita mengerti bahwa kita berjalan di dalam jalan kegelapan maha gelap, kemudian kita memiliki lampu senter, dan butir pentingnya adalah kita telah mengarahkan lampu senter tersebut ke depan, ke arah yang benar, sehingga ia mampu menerangi seluruh jalan di depan kita. Hanya saja ia masih mempunyai beberapa perbedaan, yaitu penerangan yang kita pakai barangkali hanya berupa satu nyala korek api, atau barangkali lilin, atau barangkali lampu senter, walaupun cahayanya sudah diarahkan di depan jalan kita, dia masih belum maksimal menerangi seluruh jalan di depan kita.

Dan yang kita perlukan adalah penerangan yang besar dan terang benderang, bahwa kita menginginkan penerangan sinar matahari yang terang benderang, sehingga ia akan menerangi bukan hanya sebagian kecil jalan di depan kita, tetapi ia mampu menerangi seluruh arah. Dengan mendapatkan penerangan yang maha terang seperti sinar matahari, maka sedikitpun kita tidak akan tertangkap lagi oleh teknik raba-meraba. Kalau tidak, maka kita terpaksa akan maraba-raba sebagaimana orang-orang buta meraba gajah tadi. Masing-masing orang yang meraba bagian-bagian anggota tubuh gajah sudah pasti akan memberikan tafsir berbeda, walaupun semuanya barangkali memiliki kebenaran, tetapi kebenarannya adalah kecil. Mereka memang benar... namun kata ada kata TETAPI-nya dalam huruf kapital dan di bold, karena itulah kebenaran na iti ...na iti.... artinya, bukan ini....bukan ini....

Sekarang kalau anda menjalani permasalahan anda ke depan, lanjut saya kepada tamu asal Jawa Tengah itu, yang akan menentukan adalah bagaimana cara anda menjalaninya. Apakah anda akan menjalaninya dengan menempuh jalan pertama, atau jalan yang kedua (yang dalam contoh diatas sengaja ditempatkan pada urutan pertama), atau cara ketiga. Kalau anda berhasil menempuh/menjalaninya dengan cara ketiga, lalu apakah jenis lampu penerang yang ada di tangan anda? Apakah ia hanya korek api? atau hanya lampu penerngan dari HP anda? ataukah ia penerangan strongking/petromak?

Demikian pula halnya kalau kita menjalani segala kegelapan dan permasalahan hidup kita dengan selalu berada di jalan Tuhan, di jalan Guru Sejati, lalu jalan Tuhan itu yang ada di hadapan kita adalah jalan Tuhan yang mana? Sebab ada jalan Tuhan yang hanya diterangi oleh penerangan kecil berupa penerangan HP, atau korek api, artinya kita menjalaninya dengan berdoa yang ternyata mengganggu Tuhan terus menerus, meminta dan memerintahkan Tuhan agar segera menghalau penyakit atau problem lainnya, ataukah kita menjalani dengan kesadaran lain, yaitu kita mendapatkan berkah dari datangnya problem tersebut? Hal-hal itulah yang akan menentukan hasil dari "menjalani..." seperti yang anda sebutkan tadi. Akhirnya tamu tersebut tersenyum.

Yang dapat kita ambil pada Renungan kali ini adalah, bahwa “kebebasan kecil” memang ada di tangan kita. Tuhan memberikan begitu banyak pilihan untuk kita jalani. Namun hasil yang akan kita dapatkan sangat bergantung dari setiap jalan yang akan kita pilih.

Dan memang pilihan yang paling bijak adalah tidak menganggap Tuhan sebagai “pesuruh” ataupun sebagai “Boss” yang menakutkan.

Jika kita hanya memerintah Tuhan, meskipun disampaikan dengan bahasa yang sangat tinggi, misalnya… Ya… Tuhan yang maha tinggi di atas langit…. Tolong sembuhkan sakit pinggang saya, tolong lunasi hutang-hutang saya.. dan lain-lain, dan lain-lain, maka sebenarnya kita hanya akan Mengganggu Tuhan saja.
Sebaliknya kita juga tidak perlu menempatkan Tuhan begitu jauh…, bahkan tidak terjangkau oleh kita. Namun hendaknya kita menempatkan Tuhan sebagai teman yang paling dekat.

Sebagaimana hubungan antara Sri Krishna dan Arjuna, dimana dalam segala hal Arjuna tidak pernah bisa terpisahkan dengan Sri Krishna. Bahkan segala kehebatannya dalam ilmu memanah pun tidak berfungsi ketika Sri Krishna telah menyelesaikan urusannya di Dunia ini dan meninggalkan dunia material ini. Saat itu Istana Sri Krishna didatangi serombongan perampok, yang menjarah seluruh harta benda berupa emas dan lain-lain, bahkan para janda Sri Krishnapun ikut diambil. Demi melihat kejadian tersebut, Arjuna membentak para perampok, sambil mengangkat busur panahnya ia berteriak, “Lepaskan dan kembalikan semua yang kalian ambil itu ke tempatnya”. Namun senjata Arjuna tidak akan berfungsi tanpa mantram, dan karena tanpa keberadaan Sri Krishna, Arjuna telah kehilangan semua kemampuannya untuk mengingat mantram, bahkan kemampuan untuk hidupnya pun telah pergi bersama Sri Krishna. Dengan demikian, para perampok tersebut dengan tenang dapat pergi bersama semua harta Sri Krishna yang dirampoknya.
Seperti itulah hubungan antara kita dengan Tuhan sebaiknya kita jalin. Dalam setiap nafas, kita hendaknya selalu bersama Angka/Tuhan. Karena seperti yang telah berulang-ulang saya sampaikan, bahwa Angka sebenarnya adalah perwujudan Tuhan itu sendiri. Dengan mengingat angka, berarti kita mengingat Tuhan.
Sekarang sejauh mana kita akan melangkah memasuki gerbang demi gerbang dan tangga demi tangga Spiritual, sejauh itulah kita akan sampai. Dan suatu saat jika kita telah “sampai” pada tujuan Spiritual yang sebenarnya, maka angka tersebut akan hilang dengan sendirinya, dan yang ada hanyalah Tuhan. Karena itulah, mari kita lebih mantapkan diri untuk selalu bersama Angka Pilihan kita 24 jam sehari.

(… Selesai…)


Sriguru,
Darmayasa











Godaan Spiritual (bag-2)
Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud

Gerakan Suryanamaskar