Milis Love_divine
Artikel
Pengalaman
Kegiatan Meditasi
Majalah Meditasi Angka
Makanan Dan Meditasi
Cerita Renungan
Cd/vcd/dvd
Donasi
Layanan Sms Renungan
Kata-kata Mutiara
 
 
 
 

Divine Love lahir pada bulan Februari 2000 di Bali, Indonesia, lewat proses Samadhi dari Acharya-Shri Kamal Kishore Goswami dan muridnya, Darmayasa. Sekaligus terlahirkan teknik baru meditasi bernama Meditasi Angka yang bertujuan untuk membangkitkan tenaga Kundalini demi terwujudnya Cinta Kasih Spiritual di dalam hati setiap insan Tuhan di dunia.

Cari Artikel
Divine-love-society.org > Artikel
MENOLAK KESEMPATAN EMAS (BAGIAN 1)
Posted by Darmayasa on 2011-09-08
[ print artikel ini | beritahu teman ]

Salam Kasih,

Jika ada orang yang menanyakan kepada kita, ada berapakah mata yang kita miliki?, maka biasanya kita akan menjawab ada dua buah, yaitu mata kanan dan mata kiri. Atau kalau kita mau bercanda kita akan menjawab banyak, yaitu mata kaki, mata keranjang, dan mata-mata. Namun jawaban yang benar adalah dua, yaitu mata duniawi dan mata batin.

Mata duniawi adalah kedua mata yang tampak secara lahiriah, yaitu mata kanan dan kiri. Dan mata batin adalah mata ketiga, yaitu mata yang terletak di ajña cakra, yang tidak tampak secara lahiriah, atau mungkin diperlukan praktik dan berkah khusus dariNya untuk kita dapat melihat dan menyadari keberadaannya.

Dalam kehidupan sehar-hari biasanya kita memilih 100 persen memakai mata lahiriah, karena memang ia bersentuhan secara langsung dengan obyek pandangan duniawi yang kita hadapi setiap hari. Namun..., hal yang disayangkan adalah bahwa mata duniawi ini akan dengan segera mengalihkan perhatian kita untuk menjadi lengket pada obyek dunia, sehingga membuat kita melupakan keberadaan serta fungsi mata batin yang kita miliki sehingga pada akhirnya kita akan lebih memilih serta menyukai penggunaan 100 persen mata lahiriah di dalam keseharian sepanjang hidup kita, daripada mempergunakan mata batin. Sebagai hasilnya, karena kita memilih 100 persen mempergunakan mata lahiriah maka ternyata 100 persen pula kita dijauhkan dari hal-hal spiritual, atau dengan kata lain ternyata kita 100 persen kita memilih melupakan tujuan sejati dari hidup sebagai manusia yang kita dapatkan saat ini.

Barangkali kita tidak usah terlalu jauh membawa pembicaraan kita kali ini, cukup kita batasi dengan merenungkan keseharian kita di dalam bergaul dengan sesama. Pada suatu malam saya kedatangan tamu terhormat dari Jakarta yang datang ke Bali bersama keluarganya. Tamu ini orangnya sangat baik dan berhati emas. Hanya saja...., malam itu saya sangat sayangkan bahwa ternyata ada teman-teman yang lebih memilih urusan-urusan pribadi yang tidak begitu penting untuk dilakukan, atau mungkin lebih memilih menonton program televisi sambil tiduran di rumah daripada mendapatkan kesempatan emas untuk datang ke tempat indah yang sangat “kaya-raya dengan emas permata spiritual”, yaitu Paramadhama, Center Meditasi Angka di Denpasar-Bali, untuk bertemu dengan orang-orang yang berhati emas seperti tamu kita saat itu.

Ketika kita sedang duduk-duduk pada malam itu, setelah menyempatkan waktu untuk sekadar berbasa-basi dan menjamu tamu yang bersangkutan dengan kue dan "pepelan" kacang kedele maha enak, akhirnya kita sampai pada suatu diskusi yang membahas tentang bagaimana kita ternyata tanpa sadar telah sering mengabaikan kesempatan emas yang diberkahi oleh Tuhan kepada kita. Dalam pergaulan biasa kita akan sangat sulit mendapatkan orang yang bersedia mendengarkan dan/atau berkenan bersama kita berdiskusi tentang hal-hal spiritual. Biasanya, dari ratusan teman yang kita jumpai barangkali hanya akan ada seorang teman saja yang bersedia berbicara tentang spiritual kepada kita. Tuhan berkarunia, Tuhan maha pengasih, Tuhan terlalu sering memberikan kesempatan kepada kita untuk berkesempatan dekat dengan orang-orang berhati emas.

Tetapi, kesempatan emas tersebut seringkali kita tidak mampu mengenalinya, karena kita ternyata lupa menggunakan mata batin, dan sebaliknya kita 100 persen lebih memilih untuk menggunakan mata lahiriah kita.

Karena itulah terjadi ke-tidak-seimbangan antara kita dengan kesempatan emas tersebut, akibat kita lebih memilih menggunakan mata lahiriah. Lalu apa yang terjadi?! Ternyata kita tidak mampu melihat kebaikan dan kemuliaan orang yang pada saat itu berada di dekat kita, karena kita ternyata melihat dan memberikan seluruh perhatian kita pada keburukan serta kekurangan orang tersebut. Kita mulai menemukan hal-hal sangat masuk akal yang menunjang penglihatan kita terhadap keburukan orang itu dengan begitu mudahnya, sangat masuk akal sehingga menambah kita menjadi jauh lebih bersemangat ekstra untuk mengkaji, menceritakan dan menjelaskan dengan sangat terperinci kepada teman-teman kita tentang keburukan orang itu, dan.... pembahasan tersebut ternyata memberikan kepuasan sangat besar kepada diri kita.

Hingga tanpa kita sadari...lama kelamaan kita bahkan merasakan sangat berbahagia dalam membicarakan dan mendiskusikan keburukan serta kekurangan teman itu. Lalu kita akan bertemu dengan orang-orang yang seide dengan kita yang juga ikut serta dengan bersemangat untuk memberikan bukti, saksi, menambahkan berbagai bumbu-bumbu serta pandangan sangat masuk akal akan keburukan dan kekurangan orang tersebut.

…Bersambung…

Sriguru,

(Darmayasa)











Godaan Spiritual (bag-2)
Godaan Spiritual (bag-1)
Peliharalah Badan Kita
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (3)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (2)
Menanti Kehadiran Sang Maha Pinandita (1)
Tak Ada Yang Gagal
Tabloid Suluh Meditasi Edisi Nopember 2011
Kenapa Medang?
Dalam Baju Spiritual
Legenda Cinta Radha Krishna
Geliat Pembangunan Aula/wantilan Di Parama Dhama Denpasar
Bersama Guru Dalam Setiap Langkah
Menolak Kesempatan Emas (bagian 2)
Menolak Kesempatan Emas (bagian 1)
Teknik Menerima Berkah (bagian 2)
Teknik Menerima Berkah (bagian 1)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.2)
Menjaga Hubungan Dengan Guru / Tuhan (bag.1)
Sembah Sujud

Gerakan Suryanamaskar