BERSAMA GURU DALAM SETIAP LANGKAH Posted by Darmayasa on 2011-09-30 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Sesungguhnya dalam hidup ini yang kita perlukan adalah kita selalu bersama Guru dalam setiap langkah. Hal itulah yang paling kita perlukan dalam kesempatan hidup menjelma sebagai manusia yang sedang melangkah di jalan indah spiritual saat ini. Dalam segala keadaan kita bersama guru…, dan bersama guru…, dan bersama guru…..
Tetapi sekali lagi saya ingatkan, bahwa Guru yang kita maksud adalah Tuhan… bukan Guru yang dalam bentuk badan.
Sebagai contoh, walaupun secara phisik saya berjauhan dengan Guruji, tetapi setiap saat dan dalam setiap nafas saya selalu bersama Guruji. Apapun yang saya lakukan, semuanya selalu dibawah naungan Guruji. Dengan demikian Guru yang sejati pastilah senantiasa berkenan bersama saya.
Kita telah membuktikan banyak jalan dan cara yang telah kita tempuh sampai mendiskusikan hal-hal sangat tinggi dan rahasia, tetapi semua kita lakukan tanpa bersama Guru, alias semua kita lakukan “tidak” bersama Guru. Oleh karena itulah kita telah begitu banyak menemukan berbagai macam kegagalan demi kegagalan di dalam “pencarian” kita.
Sekarang saatnya kita mengubah teknik pencarian, yaitu pencarian bersama Guru, Namun perlu kiranya diingat, kalau kita kurang berhati-hati, maka pencarian kita akan berubah secara tipis menjadi pencaharian. Tentu saja sangat jauh bedanya pencarian dengan pencaharian…, dimana pencarian adalah usaha kita untuk meraih sesuatu di jalan Spiritual, sedangkan pencaharian adalah kita memanfaatkan jalan Spiritual yang maha indah dan suci murni untuk kepentingan materi duniawi kita. Dan hal ini terlalu banyak terjadi di zaman kali ini. Sem oga kita sekalian terhindar dari godaan murahan seperti itu.
Oleh karena itulah, dalam hal ini kita perlu sangat berhati-hati, agar dapat tetap berada di tempat yang “aman” spiritual dan bukan “nyaman” material. Semua itu hanya bisa di dapatkan melalui pencarian bersama Guru. Disaat kita mengadakan pencarian tidak bersama Guru, maka kita akan dipaksa untuk mengadakan pencarian bersama yang lain selain Guru.
Pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah: Adakah suatu berkah yang akan di dapat tanpa keberadaan Guru? Jawabannya sudah jelas: Tidak mungkin. Barangkali kita bisa mendapatkan kulit pisang tetapi bukan isi pisang. Barangkali kita akan bisa mendapatkan segala keindahan material termasuk material sangat halus berupa teknik meditasi "pejam mata" tetapi kita tidak akan mendapatkan apa-apa selain hanya khayalan. Kita hanya mengkhayal telah memasuki ruang keberhasilan.
Sekali lagi penting kita ingat bahwa yang kita sebut sebagai Guru hanyalah Tuhan, sedangkan Guru dalam tubuh manusia hanyalah simbol saja. Jadi, kemana pun pergi tetaplah bersama Guru, maka Guru akan berada bersama kita. Kalau kita bersama yang lain, maka Guru akan melangkah mundur selangkah untuk memberikan kebebasan kecil pada kita dalam memilih menempatkan kepentingan sesuatu yang bukan Guru. Artinya Guru tidak pernah memblok keinginan kita. Guru tidak akan menjajah keinginan kita untuk mendapatkan kebebasan kecil ketika kita masih menginginkan keberhasilan, atau kesenangan duniawi. Dalam ha lini Guru akan memberikan jalan lewat, dan beliau tidak akan menghalangi kita mencari atau menikmati keberhasilan atau kesenangan duniawi, hanya saja beliau mungkin tidak mendukung pencaharian kita tersebut.
Sebagaimana halnya dengan seorang bapak yang sangat sibuk, tentunya ia tidak akan memboroskan waktunya untuk bermain lumpur bersama anak-anaknya. Tetapi orang tua tentu saja akan mengorbankan waktu super sibuknya jika saja hal tersebut diperlukan demi penyelamatan sang anak. Dan itupun tentu saja ketika sang anak mau membiarkan dirinya untuk diselamatkan, karena jika si anak memberontak, maka orangtua pun akan "tidak apa-apa" menyaksikan anak-anaknya berada dalam kedukaan dan kegagalan.
Dalam hal ini bukan berarti orang tua tega atau rela melihat anaknya gagal dan berada dalam kedukaan, melainkan ia ingin melihat anaknya dewasa serta bijaksana dalam menentukan pilihan, dan berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Sebab orang tua memang bisa membantu, namun si anak yang harus melakukannya.
Demikian pula halnya, bahwa muridlah yang harus tekun dalam praktik, atau membiarkan dirinya diangkat dan dikeluarkan dari lumpur busuk dan tidak memilih meronta-ronta sambil menendang dengan penuh kekesalan disaat Guru menyelamatkannya dari kubangan lumpur yang berbau dan busuk.
Nah, ketika kita bersedia untuk bersama Guru, maka guru akan memperlihatkan kesejatian Gurunya. Beliau akan memberikan keguruannya kepada sang murid, dan si murid akan tetap berada dalam pelukan keberhasilan dan keselamatan, sehingga sang murid tidak perlu berusaha ekstra , karena segalanya akan dilakukan oleh Gurunya, Ia tinggal melangkahkan kakinya saja untuk maju selangkah demi sekangkah dengan selamat, karena perlindungan Guru juga sudah pasti baginya. Pada saat itulah Guru akan berada di hadapannya, di belakangnya, di seluruh arah, dimana saja, kapan saja, untuk melindungi dan mengangkat muridnya dari kubangan lumpur yang berbau, yang oleh kebanyakan orang duniawi dianggap sebagai tujuan.
Dengan segala cara Guru akan datang ke hadapan muridnya, mungkin terkadang si murid dapat mengenalinya, tetapi lebih banyak ia tidak akan mampu mengenali kehadiran Gurunya, bahkan terkadang kehadiran Guru di hadapannya akan dianggap sebagai “halangan” oleh sang murid yang belum berhasil menempatkan dirinya menyatu dengan sang Guru. Murid seperti itu hanya akan bersama Guru ketika Gurunya setuju terhadap segala keinginannya. Namun ketika ia melihat Guru tidak berada dalam bingkaian keinginannya maka ia segera menolak Gurunya. Jika demikian yang terjadi, maka artinya ia telah mulai membuka pintu kegagalan di hadapannya.
Semoga kita semua diizinkan olehNya untuk selalu berada di jalan salamat dengan perlindungan penuh dari Guru.
…Selesai…
Sriguru,
(Darmayasa)
|