MENANTI KEHADIRAN SANG MAHA PINANDITA (1) Posted by Darmayasa on 2011-12-01 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Sebagai pembuka renungan kali ini, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kecintaan kita pada budaya asli Nusantara, mari kita bersama melihat sebuah bait dari Kekawin Nitisara berbahasa Jawa Kuna berikut ini:
Lwirning mangdadi madaning jana surupa dhana kula-kulina yauwana,
Lawan tang sura len kasuran agawe wereh i manahikang sarat kabeh,
Yan wanten ikang sang dhaneswara surupa guna dhana kulina yauwana,
Yan tan mada mahardhikeka pangaranya sira putusi sang pinandita.
Terjemahannya berarti sebagai berikut:
"Hal-hal yang dapat membuat seseorang mabuk adalah ketampanan, harta-benda, kebangsawanan, usia muda, minuman keras, dan juga keberanian/kekuatan. Semua itu dapat membuat pikiran atau hati orang menjadi mabuk. Akan tetapi, jika ada orang yang kaya raya, berwajah tampan, berhati mulia, banyak harta, kelahiran bangsawan dan lagi sedang mudanya..., jika ia tidak menjadi mabuk oleh semua itu, maka ia adalah seorang pinandita yang maha bijaksana."
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak mengenal berbagai jenis miras (minuman keras) yang memabukkan mulai dari yang import seperti Whiskey, Vodka, atau buatan lokal seperti Arak, Tuak dan lain-lain.
Selain minuman keras, apa sajakah yang dapat membuat seseorang menjadi mabuk? “mangdadi madaning jana?”. Dalam Kekawin Nitisara ini, jenis kemabukan tersebut diawali dengan “surupa”. Apakah surupa itu? “Su” berarti sangat, dan “rupa” berarti wajah cantik atau tampan. Jadi, Surupa adalah kecantikan atau ketampanan. Ketampanan dan kecantikan biasanya dengan sangat segera dapat membuat seseorang menjadi lupa diri. Sebagai akibatnya, orang akan langsung mempersamakan dirinya dengan badan yang cantik dan tampan, hingga ia akan melupakan Dirinya yang sejati. Bahwa ia yang sejatinya adalah sang roh yang juga sama persis dimiliki oleh semua makhluk hidup, baik itu hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
Mendapatkan anugrah berupa hadiah wajah cantik atau tampan, dalam banyak hal sesungguhnya adalah "musuh". Memang menyenangkan, namun kalau kita kurang berhati-hati, maka kita akan diarahkan ke lorong yang gelap dan pengap. Dalam keadaan seperti itu, maka kecantikan dan ketampanan akan mengantarkan seseorang kepada jalan kegelapan, jalan keruntuhan moral spiritual.
Jika dalam kelahirannya seseorang beruntung mendapatkan anugrah dari Tuhan berupa ketampanan atau kecantikan, maka yang bersangkutan tidak berarti harus menerima kecantikan atau ketampanan sebagai musuh yang harus dibenci atau ditolak, melainkan hendaknya menerimanya sebagai berkah Tuhan yang patut dipelihara, dimana ia perlu dijaga dan dikembangkan dalam kecantikan yang wajar dan alami, agar ia tidak menarik kita kedalam lumpur seperti lumpur hidup yang bahkan dapat menarik seekor kerbau yang kuat sekalipun kedapamnya..
Surupa dalam pandangan positif berarti wajah yang "menarik". Dalam bahasa Inggirsnya disebut sebagai “Inner Beauty”. Ya, surupa berarti wajah yang menarik dan tidak berarti ia harus cantik, melainkan menarik. Sering kita bisa lihat dan bertemu bahwa orangnya tidak tampan atau tidak cantik, tetapi orang tidak akan bisa melepaskan pandangan matanya dari orang itu... seperti ada sesuatu yang menarik dari dalam dan memancar keluar, sehingga orang yang melihatnya tidak akan mampu mengalihkan pandangan matanya dari wajah orang "surupa" tersebut.
Kecantikan “surupa” seperti itu sangat jauh berbeda dengan kecantikan "surupa" tanpa daya tarik, apalagi kecantikan yang dipaksakan dengan poles sana-sini apalagi hingga memaksakannya dengan bantuan operasi plastik. Surupa poles sana-sini bukanlah surupa yang attractive, melainkan “surupa-kamuka” atau kecantikan maupun ketampanan yang diwakili oleh kekuatan yang bernama hawa nafsu.
Surupa yang attractive adalah surupa yang patut disyukuri, dijaga, dipelihara, serta dikembangkan, karena ia adalah anugrah Tuhan yang maha menarik. Syukurilah dan jagalah anugrah kecantikan atau ketampanan tersebut demi menghormati beliau sang maha menarik, yaitu Tuhan YME.
Jika seseorang dikaruniai wajah cantik, maka sangatlah bersalah dan bahkan berdosa jika ia mengabaikan anugrah tersebut, lalu ia tidak pernah mau “berhias” (dalam tanda petik). Karena jika terjadi penolakan tanpa sadar seperti itu, maka Tuhan tidak akan mengalami kesulitan untuk menarik kembali anugrahnya itu.
Bagi orang-orang yang mengarahkan kecantikannya pada surupa yang attractive akan mendapat berkah indah dari Tuhan. Mereka walaupun berpakaian sederhana, tetapi tetap akan nampak anggun menarik.
Sedangkan mereka yang ter"mabuk"kan oleh kecantikan pun ketampanan, maka mereka akan secara ekstra menumbuh-kembangkan kecantikannya mengarah pada surupa-kamuka, yaitu dengan berhias secara berlebihan, menghamburkan uangnya untuk operasi platik sana-sini, tambahkan hidung lurus mancung dan lain-lain, maka kecantikan yang dipaksakan seperti itu pastilah akan mengarahkan orang yang bersangkutan kepada jalan kegelapan dan kehancuran yang sepertinya sudah berada didepan mata saja.
Berhias dalam tanda petik diatas artinya, kecantikan alami yang didapatkan hendaknya ditumbuh kembangkan melalui ketekunan dalam praktek yoga dan meditasi, svadhyaya, sembahyang, tapa-vrata dan lain-lain, yang akan dengan pasti mengantarkan seseorang pada kebahagiaan abadi.
Sedangkan kecantikan yang bertujuan hanya untuk pamer hal-hal duniawi berupa, uang/harta, nama, keturunan/asal-usul kelahiran, kemashyuran..., atau dengan kata lain kecantikan yang bertujuan menjauhkan seseorang dari jalan Tuhan yang maha pengasih, maka kecantikan seperti itu pastilah merupakan titian jalan menurun menuju kegelapan maha gelap (andham tamah pravisanti).
…Bersambung…
Sriguru,
(Darmayasa)
|