MENANTI KEHADIRAN SANG MAHA PINANDITA (2) Posted by Darmayasa on 2011-12-08 [ print artikel ini | beritahu teman ]Salam Kasih,
Mabuk berikutnya adalah “dhana” alias kekayaan. Mabuk kekayaan duniawi yang diwakili oleh harta, tentunya semua orang dapat dengan mudah menebak kemana kita akan dibawa jika kurang berhati-hati membawanya. Dalam salah satu renungan terdahulu saya ada mengatakan bahwa memegang uang sama dengan memegang pisau tajam yang mengarah pada diri kita sendiri.
Banyak orang sampai membanting gumpalan uang lembaran seratus ribuan sangat tebal yang nilainya puluhan juta, “dibanting” alias dihamburkan dalam rangka pamer, begitu saja di hadapan orang-orang banyak hanya untuk menunjukkan ke"mabuk'annya dalam hal harta benda. Ia mentraktir semua orang yang ada di hadapannya, bahkan ada pula orang yang mentraktir orang yang tidak dikenalnya, tetapi hanya karena orang itu kebetulan masuk ke Restaurant tempat ia menghambur-hamburkan uangnya ikut kecipratan ditraktir.
Sebagian besar yang kita kenal, orang yang membanting uang dengan kebanggaan berlebihan seperti itu, pada akhirnya mereka tidak akan punya uang sama sekali. Tentu saja Tuhan tetap berkarunia kepadanya, tetapi ia tidak lagi memiliki kesempatan dibanjiri uang, dan pada akhirnya dipaksa untuk harus hidup pas-pasan saja. Kalaupun ia berhasil tetap bersama uang yang banyak dan berlimpah, tetapi karena ke"mabuk'annya dalam harta benda, akhirnya menyebabkan jiwanya menjadi tidak stabil, atau rumah tangga serta anak-cucunya menjadi tidak terkontrol sama sekali. Uang tetap ada, tetapi segala kebaikan seakan telah melarikan diri menjauh dari orang yang dalam keadaan mabuk seperti itu.
Selain itu, dengan membiarkan dirinya tidak berhati-hati dalam menerima dan memanfaatkan uang, akan dapat mengantarkan seseorang pada jiwa yang kasar, angkuh, tipu-menipu dan bahkan berujung pada tindakan kriminal, sebab uang pada akhirnya telah dan akan menggantikan kedudukan Tuhan di dalam bathinnya.
Selanjutnya, "mabuk" yang berikutnya adalah "kula-yauwana".
Mabuk “kula-yauwana" ini sangat berbahaya. Karena ia akan membuat seseorang menjadi mabuk berat. Kelahiran kula-warga sering membedakan orang dengan sangat jelas dalam pergaulan dan hubungannya dalam masyarakat. Dimana kelahiran kula-warga yang berasal dari kelas terhormat biasanya menjadi "musuh" menyenangkan. Sebagaimana minuman keras yang dapat menyenangkan bagi sebagian orang, tetapi akan membuat orang mabuk hingga sempoyongan, demikian pula halnya dengan kelahiran, yang kalau di India ada kelas-kelas brahmana dan ksatria, kemudian di Bali ada golongan Ida Bagus, Cokorde, Anak Agung, Pasek dan lain-lain, dimana semua itu dapat memberikan kebanggaan palsu yang memabukkan.
Namun jangan keliru, karena bukan hanya golongan keluarga terpandang saja yang memberikan kemabukan, melainkan setiap keluarga dapat memberikan andil menciptakan kemabukan. Artinya kontrol diri setiap orang sangat diperlukan disini, agar satu sama lain tidak menjadi pemicu tumbuhnya kemabukan jenis ini.
Orang yang dalam keadaan mabuk seperti ini, biasanya sulit menerima kelebihan orang lain yang dianggapnya dari kelahiran di keluarga yang lebih rendah darinya. Tentu saja berbagai macam kerugian sudah berada di depan matanya, karena otomatis ia tidak akan mampu menerima pelajaran-pelajaran indah dalam hal Spiritual karena ia sendiri membatasi dirinya atau menganggap dirinya hanya layak menerima pelajaran Spiritual dari orang yang berasal dari golongan yang sama dengannya saja, sedangkan pada kenyataanya orang yang berasal dari golongannya mungkin tidak ada yang mampu memberikannya ilmu pengetahuan spiritual yang sejati. Dengan demikian ia telah menutup pintu masuk bagi berkah indah dan bersembunyi di balik ruang gelap yang maha pekat.
Dalam kekawin Nitisastra ini, khususnya memang dimaksudkan untuk keluarga yang sedang terpandang tinggi dan terhormat di masyarakat. Kelahiran bangsawan atau terhormat seperti itu sangat mudah mengarahkan seseorang kepada keakuan palsu dan membuatnya berbangga secara berlebihan pada kebangsawanannya. Kalau dahulu waktu saya kecil, sangat terbiasa mendengar beliau yang berasal dari golongan kelahiran brahmana berbicara kasar kepada orang-orang jaba (dianggap golongan yang lebih rendah dari brahmana).
Saat itu sudah sangat biasa jika ada anak brahmana yang masih usia beliau bebicara dengan orang yang jauh lebih tua, tetapi memakai kalimat-kalimat yang kasar dan seperti ditujukan kepada orang yang berasal dari kelas rendah sekali. Saat inipun munkun masih ada, tetapi sudah mulai berkurang, dan semoga kedepannya akan lebih baik, dimana anak yang lebih muda hendaknya berbicara dalam bahasa halus untuk lebih menghormat kepada yang lebih tua, tanpa membedakan asal-usul golongan kelahirannya.
Kemudian "mabuk" berikutnya adalah Yauwana.
Yauwana artinya usia muda. Usia muda ternyata bukan usia indah bagi kita untuk menikmati, melainkan usia "berbahaya" karena ia juga adalah sama dan mungkin lebih berbahaya dari "miras" yang memabukkan. Usia muda adalah usia "mengamuk" untuk mencari jalan yang tidak tentu arah tujuannya. Artinya, masa ini adalah usia yang sangat labil dalam menentukan arah masa depan dalam kehidupan seseorang. Barangkali oleh karena itulah para orang tua dahulu menyebutkan usia labil tersebut sebagai usia "mudha", yang belakangan dalam bahasa Indonesia menjadi kata muda.
Dalam bahasa Sanskerta “mudha” berarti bodoh, atau kegelapan, dimana pada usia-usia labil tersebut adalah usia yang dipenuhi oleh kebodohan dan kegelapan, segalanya serba menggebu dan tidak siap untuk mendapatkan atau menerima disiplin dan arahan, apa yang ia mau maka itulah yang dianggap sebagai kebenaran, apa yang menyenangkan baginya itulah kebenaran, kemudian siapa yang mau mengikuti keinginannya maka itulah orang yang benar, dan bukan orang tua, bukan kakak, bukan kakek/nenek, bukan pula guru, melainkan mereka yang bisa membujuk dan menyetujui keinginan-keinginannya itu sajalah orang yang dianggap benar baginya.
…Bersambung…
Sriguru,
(Darmayasa)
|